Rabu, 07 November 2018

Laporan Hasil Cave


LAPORAN HASIL
PENOMORAN DIVISI GUA
PEMETAAN GUA HORIZONTAL,
PENELUSURAN GUA VERTIKAL
DAN RISET PERUBAHAN KONDISI GUA 
Diajukan sebagai syarat untuk mendapatkan nomor induk anggota.

DI SUSUN OLEH :
Tommy Irianto Gustama P.B
Muh. Rully Pratama Sakti R
Alvin Adam Utama

KOMUNITAS PENCINTA ALAM
UNIVERSITAS FAJAR
MAKASSAR
2018




HALAMAN PENGESAHAN


LAPORAN HASIL
PENOMORAN DIVISI GUA
PEMETAAN GUA HORIZONTAL, 
PENELUSURAN GUA VERTIKAL
DAN RISET PERUBAHAN KONDISI GUA 

Telah di presentasikan dan di pertanggung jawabkan dihadapan Pembimbing dan Anggota Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar Makassar, Pada Tanggal 04 November 2018 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota Penuh.

Makassar, 9 November 2018
Mengetahui :
Pendamping Kegiatan


Jessica Reskiwira A
NIA:990311.XIII.036

Mengesahkan:
Ketua Umum


Yadi Pratama
NIA:990311.XVI.040



DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
BIODATA PESERTA PENOMORAN
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
I.2 Nama Kegiatan
I.3 Tujuan Dan Target
I.4 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
I.4.1 Waktu 
I.4.2 Tempat Pelaksanaan
I.5 Pelaksanaan kegiatan
I.6 Peserta Kegiatan
I.6.1 Pendamping
I.6.2 Peseta Penomoran
I.6.3 Tim Pendukung
I.7 Bentuk Kegiatan
I.8 Anggaran Kegiatan
I.9 Logistik
BAB II METODE PELAKSANAAN
II.1 Persiapan
II.1.1 Teknis
II.1.2 Non Teknis
II.2 Pelaksanaan
II.2.1 Penulusuran Gua
II.2.2 Pemetaan Gua
II.2.3 Riset 
II.3 Pasca Pelaksanaan
II.3.1 Penyusunan Laporan
II.3.2 Persentase Akhir
BAB III GAMBARAN UMUM
III. 1 Lokasi Kegiatan 
III.1.1 Geografis 
III.1.2 Pembagian Administratif
III.1.3 Kemiringan Lereng
III.1.4 Kemiringan Muka Laut
III.1.5 Demografi
III.1.6 Hidrologi
III.1.7 Klimatologi
III.1.8 Topografi
III.2 Landasan Teori
III.2.1 Penelusuran Gua
III.2.2 Pemetaan Gua 
III.2.3 Riset 
BAB IV PEMBAHASAN
IV.1. Survey
IV.1.1 Sammani
IV.1.2 Latif
IV.2 Penelusuran
IV.2.1 Sammani
IV.2.2 Latif  
IV.3 Pemetaan Gua Horizontal
IV.4 Riset
IV.4.1 Observasi
IV.4.2 Wawancara
IV.4.3 Hasil Riset
BAB V    PENUTUP
V.1 Kesimpulan
V.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



BIODATA
PESERTA PENOMORAN




Nama                         : Tommy Irianto Gustama P.B
Angkatan                   : DIKLATSAR XVI
TTL                             : Ujung Pandang, 06 Mei 1995
Agama                       : Khatolik
Alamat                        : Aspol Tallo Lama Blok. C.8
Asal Daerah              : Kota Makassar
No. HP                       : 081354685726
No. HP Orang Tua   : 081241037403

Email                          : Elang.erlangg30@gmail.com




Nama                         : Muh. Rully Pratama Sakti .R
Angkatan                   : DIKLATSAR XVII
TTL                             : Rantepao, 12 Mei 1998
Agama                       : Islam
Alamat                        : Jl. Penjernihan 4, No.47A
Asal Daerah              : Kota Palopo
No. HP                       : 085399250852
No. HP Orang Tua   : 081355524567
Email                          : Rullypratama06.rp@gmail.com





Nama                         : Alvin Adam Utama
Angkatan                   : DIKLATSAR XVII
TTL                             : Lambai, 05 Juni 1998
Agama                       : Islam
Alamat                        : BTN Paropo
Asal Daerah              : Kolaka Utara
No. HP                       : 085242748736
No. HP Orang Tua   : 085244956664
Email                          : Alvinadamutama@gmail.com

KATA PENGANTAR
Assalamu‘Alaikum Warahmatullahi Wabararakatuh,
Salam Lestari
            Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan Ridhonya, penulis dapat menyusun laporan presentasi hasil Penomoran divisi gua ini dengan sungguh - sungguh.
            Terima kasih banyak kami ucapkan kepada Pendamping yang sangat setia mendampingi selama berlangsungnya kegiatan ini dan terimakasih juga kepada   para Senior - senior dan anggota Kompala Unifa yang  sudah bersedia meluangkan waktunya untuk bersama-sama membahas laporan presentasi Penomoran Dimana Kegiatan ini merupakan salah satu dari program kerja pengurus Periode 2017/2018.
            Laporan ini masih sangat jauh dari kata sempurna walaupun telah menerima bantuan dari berbagai pihak. Kesalahan - kesalahan pada laporan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapakan demi penyempurnaan laporan ini.
Semoga apa yang kita rencanakan dan kita bahas pada malam ini dapat terlaksana dan di ridhoi oleh Allah SWT.
Tetap Lestari
Wassalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


BAB I
PENDAHULUAN

I.1   Latar Belakang
             Komunitas Pencinta Alam (Kompala) Universitas Fajar Makassar sebagai salah satu organisasi yang bergerak pada bidang ilmiah, kemasyarakatan, kemanusiaan, seni, dan olahraga kepetualangan.
Setiap anggota Kompala Unifa harus fokus pada satu divisi dari diantara ketiganya (Gunung Hutan, Tebing da Gua) agar menjadi anggota seumur hidup. Untuk masuk dalam daftar keanggotaan yang berlaku seumur hidup, harus mengikuti dan melalui tahap-tahap yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Kompala Unifa serta program kerja dari Pengurus Harian Kompala Unifa.
Misalnya, Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar), Pendidikan lanjutan dan Pengambilan Nomor Induk Anggota. Bertujuan, untuk melahirkan regenerasi keanggotaan. Untuk memenuhi syarat keangotaan penuh sebagai anggota muda, serta mematuhi AD/ART maka pemohon dalam hal ini memilih gua (cave) sebagai divisi dalam kegiatan penomoran. untuk meningkatkan skill penambahan jam terbang, pengetahuan mengenai ilmu penelusuran gua, serta pemetaan gua
Maka dalam tahap pengambilan Nomor Induk Anggota divisi gua, Pemohon akan melakukan penelusuran gua horizontal dan vertical, pemetaan gua horizontal, pemasangan jalur vertical, serta Riset.
Adapun Riset untuk tahap penomoran ini merupakan hal baru bagi anggota Kompala sendiri. Penambahan item kegiatan ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan serta pemahaman peserta kegiatan terhadap lingkungan gua, khususnya Perubahan Kondisi Gua.


I.2   Nama Kegiatan
            Kegiatan ini diberinama “Pengambilan Nomor Induk Anggota” Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar (Kompala Unifa) Makassar”.
I.3 Tujuan Dan Target Kegiatan
Pada kegiatan ini kami memiliki tujuan dan target, Adapun tujuan dan target dilaksanakannya kegiatan ini sebagai berikut :
Tujuan :
1.    Mendapatkan nomor registrasi keanggotaan Kompala Unifa
2.    Menambah wawasan dan kemampuan pada bidang gua  (cave)
3.    Menjelaskan secara deskriptif Perubahan Kondisi Gua
4.    Membangun lingkungan belajar serta silaturahmi antar sesama penelusur
5.    Mengaplikasikan keterampilan dalam melakukan penelusuran gua dan keilmuan pemetaan gua serta Riset tentang Perubahan Kondisi Gua.
Target :
1.  Melakukan pembuatan jalur penelusuran gua vertikal.
2.  Mampu melakukan pemetaan gua horizontal dengan menggunakan Gread 4, Class C.
3.   Melakukan Riset dengan metode kualitatif tentang Perubahan Kondisi Gua.
  I.4 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
I.4.1 Waktu
      Kegiatan  ini dilaksanakan pada hari kamis, 20 September 2018 sampai hari jumat, 21 September 2018. Adapun waktu pengambilan data wawancara ke Organisasi Pencinta Alam  GreenFish Jumat, 2 November 2018, Dan Organisasi Pencinta Alam STIMIK Handayani pada Sabtu, 3 November 2018.
I.4.2 Tempat Pelaksanaan
      Tempat  pelaksanaan kegiatan di Gua Sammani dan Gua Latif yang berlokasi di Dusun Pangia, Desa Semangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.   
      Pengambilan data wawancara di Organisasi Pencinta Alam  GreenFish bertempat di Tuna Corner (BTP)  Dan Organisasi Pencinta Alam STIMIK Handayani bertempat di Sekretariat Pencinta Alam STMIK HANDAYANI.

I.5 Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan Pengambilan Nomor Induk Anggota adalah pengurus periode 2018 - 2019 dan anggota Kompala Unifa.
I.6 Peserta Kegiatan
Peserta kegiatan penomoran adalah anggota Kompala Unifa yang terdiri dari peserta penomoran, pendamping dan tim pendukung. Adapun jumlah dan tugas peserta kegiatan sebagai berikut :
I.6.1 Pendamping
Pendamping berjumlah 1 (satu) orang, yaitu Jessica Reskiwira A. Pendamping berasal dari anggota Kompala Unifa dari divisi gua yang bertanggung jawab untuk mengontrol kelancaran proses penomoran secara keseluruhan.
I.6.2 Peserta penomoran
Peserta penomoran berjumlah 3 (tiga) orang yaitu Tommy Iriyanto Diklatsar XVI, Muh. Rully Pratama, dan Alvin Adam Utama Diklatsar XVII,. Peserta penomoran bertugas menyiapkan segala hal untuk menunjang terlaksananya kegiatan serta mengumpulkan dan mengolah data hasil dari lapangan.

I.6.3 Tim Pendukung
Tim ini terdiri dari anggota muda, yaitu Nelvan Toding Datu, Irwandi, Rakib Tungging, Renaldi Nurdin Ahmad, Ivonne Indriani Naua, Gabrielah Yeni Panggalo, Raymundus Lagho dan partisipan yang bertugas membantu melancarkan kegiatan yaitu Nur Usman, Nancy. Seperti manajer basecamp, dokumentasi, peralatan dan perlengkapan serta medis .
I.7 Bentuk Kegiatan
      1. Penelusuran Gua horizontal dan vertikal.
      2. Pemetaan Gua horizontal.
      3. Riset
I.8 Anggaran Kegiatan
Anggaran meliputi segala bentuk pemasukan dan pengeluaran baik yang terikat maupun tidak. Adapun sumber dana kegiatan berasal dari kontribusi peserta penomoran, Peserta Pendidikan Lanjutan dan anggota lainnya.
Adapun anggaran yang dimaksud terlampir
I.9 Logistik
      Logistik adalah hal yang terkait dengan, konsumsi, Transportasi peralatan dan perlengkapan.
1.       Peralatan dan perlengkapan
                      Adapun peralatan dan perlengkapan yaitu terlampir.






BAB IIMETODE PELAKSANAAN





II.1 Persiapan
       Tahap persiapan merupakan tahapan yang dilakukan sebelum pelaksanan kegiatan. Berikut adalah tahapan - tahapan dalam persiapan pelaksanaan.
II.1.1 Teknis
Pada tahap persiapan teknis ini meliputi Latihan fisik, Simulasi dan Materi, adapun penjelasannya sebagai berikut :
      1. Latihan Fisik
          Persiapan fisik ini dilakukan untuk meminimalisir resiko terjadinya cedera saat kegiatan berlangsung. Latihan ini di lakukan sebanyak 24 kali, dimana telah termasuk didalamnya latihan fisik dan SRT, terhitung sejak 2 April – 9 Juni 2018,persiapan ini meliputi :
a)    Endurance
b)    Straeching
c)    Strenght
Untuk komposisi latihan fisik terlampir.
2. Simulasi
        Tahapan ini dilakukan untuk memberikan gambaran pada peserta kegiatan. Kegiatan ini di lakukan sebanyak dua kali :
a)    Simulasi pertama dilakukan di gua sulaiman untuk pemetaan.
Hari/tanggal        : Sabtu, 7 Juni 2018
Tempat                 : Dusun Pattunuang, Desa Semangki,
  Kec. Simbang, Kab. Maros.
b)    Simulasi kedua dilakukan di gua Latif untuk pemasangan jalur lintasan vertikal.
Hari/ tanggal       : Minggu, 8 Juni 2018
Tempat                 : Dusun Pangia, Desa Semangki,
  Kec. Simbang, Kab. Maros.
3.  Materi
Dalam pelaksanaan penomoran ada beberapa materi yang di laksanakan untuk menambah pengetahuan peserta sebelum pelaksanaan kegiatan di antaranya yaitu :
1.    Pemasangan lintasan
2.    Pemetaan gua horizontal
3.    Metode penelitian
Adapun Materi Yang Dimaksud terlampir
II.1.2 Non Teknis
            Persiapan non teknis adalah persiapan yang meliputi segala bentuk yang berkaitan dengan hal - hal administratif seperti laporan awal, perizinan, dan sebagainya.

II.2 Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan kegiatan ini, ada tiga item yang dilakukan, yaitu penelusuran gua, pemetaan gua, dan Riset Perubahan Kondisi Gua.

II.2.1 Penelusuran Gua
Penelusuran gua vertikal menggunakan single rope technique (srt) dan frog system. Sedangkan dalam melakukan penelusuran gua horizontal tim melakukan teknik penelusuran berjalan, jalan merunduk, jongkok dan screambling.
II.2.2 Pemetaan Gua
Pemetaan gua horizontal menggunakan metode top to bottom (melakukan pengukuran dari entrence menuju ke dalam gua) dengan teknik forward methode (dimana stasiun 2 akan berpindah jika stasiun 1 sudah mengambil posisi stasiun 2), tim memilih metode ini untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan di lorong gua yang sempit. Pemetaan yan dilakukan menggunakan grade 4 class c. Grade 4 yaitu pengukuran telah memakai alat seperti kompas, klinometer serta roll meter untuk memperkuat data pemetaan sedangkan class C (detail lorong di ukur pada tiap stasiun survey).

II.2.3 Riset
Melakukan Riset dengan metode kualitatif deskriptif mengenai Perubahan Kondisi gua dengan cara wawancara dan observasi.
1. Observasi
            Observasi dilakukan untuk meninjau secara langsung lokasi pengambilan data.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk melengkapi data. Tim melakukan proses wawancara dengan individu, kelompok atau lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lokasi kegiatan. Tim dibagi sesuai kebutuhan di lapangan. Pada tahap ini, selain tanya jawab, tim juga melakukan pencatatan data diri informan dan hasil -hasil wawancara, mencatat kronologi dan mendokumentasikan proses pengambilan data


II.3 Pasca Pelaksanaan
Pada tahap ini meliputi dua item, diantaranya sebagai berikut :
II.3.1 Penyusunan Laporan
            Pada tahap ini dilakukan pengolahan data, baik data pemetaan maupun data penelitian.
II.3.2 Presentasi Akhir
Pada tahap ini tim mempresentasikan Laporan Hasil Kegiatan di depan Pembimbing dan Anggota Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar Makassar.

















BAB III
GAMBARAN UMUM

III.1 Lokasi Kegiatan
Gambaran umum mengenai lokasi kegiatan dijelaskan sebagai berikut :
III.1.1 Geografis
Luas Wilayah Kabupaten Maros 1619,11 KM2 yang terdiri dari 14 (empat belas) Kecamatan yang membawahi 103 Desa / kelurahan, Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota provinsi Sulawesi Selatan, dalam hal ini adalah Kota Makassar dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasata. Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros dengan luas wilayah 1.619,12 km2 dan terbagi dalam 14 wilayah Kecamatan.
Demikian pula sarana transportasi udara terbesar di kawasan timur Indonesia berada di Kabupaten Maros sehingga Kabupaten ini menjadi tempat masuk dan keluar dari dan ke Sulawesi Selatan. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan perekonomian Maros secara keseluruhan.



III.1.2 Pembagian Administratif
Kabupaten Maros secara administrasi wilayah berbatasan dengan :
  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bone
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Kecamatan adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah Kabupaten atau Kota. Kecamatan terdiri atas Desa-Desa atau kelurahan - kelurahan . Kabupaten Maros terdiri atas 14 Kecamatan , yang dibagi lagi atas sejumlah 80 Desa dan 23 Kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Turikale.
Kecamatan tersebut :
  1. Turikale
  2. Maros Baros
  3. Lau
  4. Bontoa
  5. Mandai
  6. Marusu
  7. Tanralili
  8. Moncongloe
  9. Tompobulu
  10. Bantimurung
  11. Simbang
  12. Cenrana
  13. Camba
  14. Mallawa
III.1.3 Kemiringan lereng
Lereng  adalah derajat kemiringan permukaan tanah yang dihitung dengan melihat perbandingan antara jarak vertikal dengan jarak horizontal dari dua buah titik dipermukaan tanah di kali seratus persen. Lereng tanah merupakan pembatas bagi sebagian besar usaha menempatkan suatu kegiatan dan keterbatasan dalam pemilihan teknologi pengolahan, selain itu lereng mempengaruhi besarnya  erosi tanah sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kualitas tanah.
Di daerah Kabupaten Maros memiliki keadaan lereng permukaan tanah diklasifikasikan sebagai berikut : (I) 0 – 2 %, (II) 2 – 15 %, (III) 15 – 40 %, (IV) > 40 %.
Pada Kabupaten Maros dengan kemiringan lereng 0 – 2 % merupakan daerah yang dominan dengan luas wilayah 70.882 Km2 atau sebesar 44 %  sedangkan daerah yang memiliki luas daerah yang sempit berada pada kemiringan 2 – 5 % dengan luas wilayah 9.165 Km2 atau sebesar 6 % dari luas total wilayah perencanaan . Untuk pengembangan wilayah dengan tingkat kelerengan 0 – 2 % dominan berada pada sebelah Barat, dan pengembangan wilayah dengan tingkat kelerengan > 40 % berada pada sebelah Timur wilayah perencanaan. Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel 3 -1.
Tabel 3 -1.
Klasifikasi Kemiringan Lereng di Kabupaten Maros (dalam Ha)
KLASIFIKASI LERENG
NO.
KLASIFIKASI LERENG
Luas (Ha)
PRESENTASE (%)
1
0 - 12 %
70.882
44
2
2 - 15 %
9.165
6
3
15 - 40 %
31.996
20
4
40%
49.869
30
JUMLAH
161.9112
100

III.1.4 Kemiringan muka laut
Ketinggian suatu tempat dari permukaan laut terutama di daerah tropis dapat menentukan banyaknya curah hujan dan suhu. Ketinggian juga berhubungan erat dengan konfigurasi lapangan, unsur-unsur curah hujan, suhu dan konfigurasi lapangan mempengaruhi peluang pembudidayaan komoditas.
Ketinggian wilayah di Kabupaten Maros berkisar antara 0 – 2000 meter dari permukaan laut. Di bagian Barat wilayah Kabupaten Maros dengan ketinggian 0 – 25 meter dan di bagian Timur dengan ketinggian 100 – 1000 meter lebih.
Pada Kabupaten Maros dengan  ketinggian 0 – 25 m merupakan daerah yang dominan dengan luas wilayah 63.083 ha atau sebesar 39 %  sedangkan daerah yang memiliki luas daerah yang sempit berada pada ketinggian > 1000 m dengan luas wilayah 7.193 ha atau sebesar 4 % dari luas total wilayah perencanaan. Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel 3-2.
Tabel 3-2.
Klasifikasi Ketinggian Muka Laut di Kabupaten Maros (dalam Ha)
KETINGGIAN MUKA LAUT
NO.
INTERVAL KETINGGIAN
Luas (Ha)
PRESENTASE (%)
1
0 - 25 m
63.083
39
2
25 - 100 m
10.161
6
3
100 - 500 m
45.011
28
4
500 - 1000 m
36.466
23
5
> 1000 m
7.193
4
JUMLAH
161.912
100

Kabupaten Maros terletak dibagian barat Sulawesi Selatan antara 5°01’04.0″  Lintang Selatan dan 119°34’35.0″ Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah Utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah selatan, Kabupaten bone disebelah Barat. Luas Wlayah Kabupaten Maros 1.619,12 km2 yang secara administrasi pemerintahannya menjadi 14 Kecamatan dan 102 Desa / Kelurahan.
Berdasarkan pencatatan kelurahan Badan stasiun Meteorologi suhu udara di Kabupaten Maros minimum berkisar pada suhu 22,80°C (terjadi pada bulan Juli dan Agustus) dan suhu maksimum berkisar 33,70°C (terjadi pada bulan oktober).
III.1.5 Demografi
Jumlah penduduk menurut kabupaten dan jenis kelamin
tahun 2010
NO
KECAMATAN
JUMLAH PENDUDUK
PRIA
WANITA
JUMLAH
SEX RATIO
1
Mandai
    17.545
    17.428
    34.973
99
2
Moncongloe
      8.480
      8.492
    16.972
100
3
Maros baru
    11.617
    12.223
    23.840
105
4
Marusu
    12.378
    12.810
    25.188
103
5
Turikale
    19.737
    21.301
    41.038
108
6
Lau
    11.865
    12.343
    24.208
104
7
Bontoa
    12.920
    13.630
    26.550
105
8
Bantimurung
    13.265
    14.552
    27.817
110
9
Simbang
    10.539
    11.462
    22.001
109
10
Tanralili
    12.961
    12.140
    25.101
94
11
Tompobulu
      6.727
      6.944
    13.671
103
12
Camba
      6.049
      6.474
    12.523
107
13
Ce nrana 
      6.540
      7.124
    13.664
109
14
Mallawa
      5.138
      5.554
    10.692
108
TOTAL
  155.761
  162.477
  318.238
104

Jumlah penduduk menurut kabupaten dan jenis kelamin
tahun 2010
 NO
      KECAMATAN          
LUAS WILAYAH
JUMLAH PENDUDUK
KEPADATAN PENDUDUK
PRIA/WANITA
1
Mandai
49,11
34.973
712
2
Moncongloe
46,87
16.972
362
3
Maros baru
53,76
23.84
443
4
Marusu
73,83
25.188
341
5
Turikale
29,93
41.038
1.371
6
Lau
53,73
24.208
451
7
Bontoa
93,52
26.55
284
8
Bantimurung
173,70
27.817
160
9
Simbang
105,31
22.001
209
10
Tanralili
89,45
25.101
281
11
Tompobulu
287,66
13.671
48
12
Camba
145,36
12.523
86
13
Cenrana 
180,97
13.664
76
14
Mallawa
235,92
10.692
45
TOTAL
1.619,12
318.238
197

Jumlah penduduk menurut agama
tahun 2010
NO
KECAMATAN
AGAMA
ISLAM
 PROTESTAN  
 KATHOLIK  
 HINDU 
 BUDHA  
 KHONGHUCU 
 LAINNYA 
1
Mandai
34.386
514
63
7
7
 0 
 0 
2
Moncongloe
16.686
249
31
3
3
 0 
 0 
3
Maros baru
23.437
351
43
5
5
 0 
 0 
4
Marusu
24.762
370
45
5
5
 0 
 0 
5
Turikale
40.347
603
73
8
8
 0 
 0 
6
Lau
23.799
356
43
5
4
 0 
 0 
7
Bontoa
26.101
390
47
5
5
 0 
 0 
8
Bantimurung
27.347
409
50
6
6
 0 
 0 
9
Simbang
21.629
324
39
5
4
 0 
 0 
10
Tanralili
24.676
369
45
5
5
 0 
 0 
11
Tompobulu
13.441
201
24
3
2
 0 
 0 
12
Camba
12.311
184
22
3
2
 0 
 0 
13
Cenrana 
13.433
201
24
3
3
 0 
 0 
14
Mallawa
10.511
157
19
2
2
 0 
 0 
TOTAL
312.866
4.678
568
65
61
 0 
 0 

III.1.6 Hidrologi
Keadaan hidrologi wilayah Kabupaten Maros dibedakan menurut jenisnya adalah air permukaan (sungai, rawa dan sebagainya) dan air dibawah permukaan (air tanah). Air dibawah permukaan yang merupakan air tanah merupakan sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari masyarakat, sumur dangkal dapat diperoleh dengan tingkat kedalaman rata-rata 10 sampai 15 meter, sedangkan sumur dalam yang diperoleh melalui pengeboran dengan kedalaman antara 75 - 100 meter.
Sumber air permukaan di wilayah Kabupaten Maros berupa beberapa sungai yang tersebar di beberapa Kecamatan, yang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan kegiatan pertanian. Sungai tersebut yakni sungai Anak Sungai Maros, Parangpakku, Marusu, Pute, Borongkalu, Batu Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunuengasue, Bontotanga dan Tanralili. Jenis air ini sebagian di pergunakan untuk pertanian.

III.1.7 Klimatologi

Kabupaten Maros termasuk daerah yang beriklim tropis, karena letaknya yang berada pada daerah khatulistiwa dengan kelembaban berkisar antara 60 – 82 % . Curah hujan tahunan rata – rata 347 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan sekitar 16 hari. Temperatur udara rata – rata 29 derajat celsius. Kecepatan angin rata – rata 2 – 3 knot/ jam. Daerah Kabupaten Maros pada dasarnya beriklim tropis dengan dua musim, berdasarkan curah hujan yakni :
  1. Musim hujan pada periode bulan Oktober sampai Maret
  2. Musim kemarau pada bulan April sampai September
Menurut Oldement , tipe iklim di Kabupaten Maros adalah tipe C2 yaitu bulan basah (200 mm) selama 2 – 3 bulan ber turut-turut . Beberapa Desa di Kecamatan Camba yang berbatasan dengan Kabupaten Bone mempunyai iklim seperti daerah bagian timur Sulawesi Selatan yakni musim hujan pada periode bulan April sampai September dan musim kemarau dalam bulan Oktober sampai Maret.
Kabupaten Maros sebagai pusat pelayanan transportasi udara internasional,yakni Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Bandar udara ini terletak di Kecamatan Mandai dan merupakan wilayah pintu gerbang Sulawesi Selatan dan KTI yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Maros adalah gerbang utama pembangunan regional dan nasional.
Kabupaten Maros sebagai pusat Pusat Pelatihan dan Pendidikan TNI-AD Kostrad Lokasi kegiatan ini berlokasi pada dua Kecamatan, yakni Sambueja Kecamatan Bantimurung dan Kariango Kecamatan Tanralili. Disamping itu, Kecamatan Mandai merupakan daerah pangkalan Udara yang menyatu dengan Bandar Udara Sultan Hasanuddin.
Kabupaten Maros sebagai pusat penelitian Pertanian, yakni Balai Penelitian Tanaman Sereal dan tanaman pangan yang berlokasi di Kecamatan Lau. Balai penelitian ini melakukan serangkaian penelitian untuk menghasilkan inovasi teknologi pertanian sekaligus mendiseminasikan secara terarah guna mendukung upaya peningkatan produksi pertanian sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan.
Kabupaten Maros sebagai Pusat Kegiatan Keagamaan, yakni suatu kegiatan yang dilakukan oleh jamaah Khalwatiah Sammang. Pada setiap hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW, jamaah Khalwatiah Sammang bersatu melakukan sikir akbar yang berlokasi di Patte’ne Kecamatan Marusu. Asal jamaah Khalwatiah Sammang tersebut tersebar diseluruh Nusantara, bahkan ada yang berasal dari Malaysia.
Kabupaten Maros bagian Wilayah Pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasa. Wilayah yang masuk dalam pengembangan ini adalah Kecamatan Mandai,Moncongloe, Tompobulu, Bantimurung,Marusu,Turikale,Tanralili, Lau,Maros Baru,Simbang, dan Bontoa. Dari luas wilayah pengembangan Kawasan Mamminasata sebesar 2.462. Km2, wilayah Kabupaten Maros yang menjadi bagian kawasan pengembangan tersebut adalah 1.039 Km2 atau 42,20%.
III.1.8 Topografi
Kondisi topografi Kabupaten Maros sangat bervariasi mulai dari datar, berbukit sampai bergunung. Hampir semua wilayah Kabupaten Maros merupakan daerah dataran dengan luas keseluruhan sekitar sebesar 43,8 persen dari total wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng diatas 40 persen atau wilayah bergunung - gunung mempunyai luas sebesar 30,8 persen dari luas wilayah Kabupaten Maros.

III.2 Landasan Teori
Landasan teori adalah seperangkat definisi, konsep serta proposisi yang telah disusun rapi serta sistematis tentang variabel - variabel pada suatu Riset. Landasan teori ini akan menjadi dasar yang kuat pada kegiatan Penelusuran Gua, Pemetaan Gua dan Riset mengenai Perubahan Kondisi Gua.
Teori umum mengenai Gua adalah sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa dia harus cukup besar sehingga beberapa bagian di dalamnya tidak menerima cahaya matahari; namun dalam penggunaan umumnya pengertiannya cukup luas, termasuk perlindungan batu, gua laut.
Adapun landasan – landasan Teori yang dimaksud dijelaskan sebagai berikut :

III.2.1 Penelusuran Gua
1. Gua Horisontal
Medan pada gua horizontal sangat bervariasi, mulai dari lorong kering yang sangat mudah ditelusuri, sampai dengan lorong yang sangat membutuhkan teknik yang khusus untuk dapat melewatinya dengan cara menunduk, jongkok, merayap memenanjak dan lain sebagainya tergantung kondisi gua.

2. Gua Vertikal
Bias Tanya untuk penelusuran gua vertical digunakan system SRT. SRT (Single Rope technique) yaitu teknik untuk melintasi lintasan vertical yang berupa satu lintasan tali. Teknik ini mengutamakan keselamatan dan kenyamanan saat melintasi tali.ada juga teknik Frog Rig System Sistem ini sering di sebut dengan sit and stand system, karena saat meniti tali digerakan seperti orang berdiri lalu duduk, sampai saat ini cara ini paling banyak digunakan karena kenyamanan, keamanan dan kecepatan.
III.2.2 Pemetaan Gua
1.    Definisi
Definisi Pemetaan Gua adalah gambaran perspektif gua yang diproyeksikan keatas bidang datar yang bersifat selektif dan dapat dipertanggung jawabkan secara visual dan matematis dengan menggunakan skala tertentu.
2.    Manfaat
Adapun Manfaat Pemetaan Gua Merupakan bukti otentik bagi penelusur gua, sebagai penulusuran yang pertama kali menelusuri goa tersebut, Sebagai sumber informasi dalam mendukung kegiatan penelitian ilmiah dan keperluan pelajaran penelusuran gua dan lain sebagainya.
3.    Peralatan
Adapun peralatan yang dimaksud yaitu :
a.    Kompas
Untuk mengukur azimuth lorong gua atau mengukur besar derajat perbedaan antara lorong gua/jalan terhadap arah sumbu utara.
b.    Klinometer
Digunakan untuk mengukur beda tinggi elevasi lorong gua/ kemiringan lorong gua pada tiap stasiun pemetaan.
c.    Pita Ukur
Pita ukur digunakan untuk mengukur panjang lorong gua, biasanya terbuat dari plat baja tipis atau terbuat dari serat kaca (Fiber Glass).
d.    Alat Tulis Menulis
Berupa Kertas anti air (Kodaktris) atau bisa menggunakan transparant paper, pensil / ballpoint maker, papan pengalas (agar tidak menulitkan kita pada saat menulis), penghapus. Kesemuanya digunakan untuk mencatat  asil pengukuran didalam gua, sketsa gua, diskripsi gua dan hal–hal lain yang perlu didata.

4.    Grade Pemetaan
         Grade Pemetaan gua adalah tingkat keakuratan atau ketelitian peta. Yang sering digunakan adalah tingkat ketelitian menurut BCRA (British Cave Research Association) yang membagi beberapa tingkatan yaitu :
a.  Grade 1
Gambar/Sketsa Kasar tanpa skala yang benar dan dibuat diluar gua dengan dasar ingatan dari sipembuat terhadap lorong–lorong yang digambar.
b.  Grade 2
Peta dibuat dalam gua tanpa skala yang benar dan tanpa menggunakan alat ukur apapun, hanya bedasarkan perkiraan.

c.  Grade 3
Sketsa dibuat dalam goa dengan menggunakan bantuan Kompas dan Tali yang ditandai tiap-tiap meternya memiliki ketelitian pengukuran satuan 2,5° posisi stasiun per 5 m, dilakukan jika waktu sangat terbatas, penggunaan Klinometer sangat dianjurkan.

d.  Grade 4
Pengukuran telah menggunakan kompas serta Meteran atau Topofil. Dapat digunakan jika diperlukan, untuk menggambarkan survey tidak sampai ke Grade 5, tetapi lebih akurat dari Grade
e.  Grade 5
Pengukuran Dengan Kompas Prismatic dan Klinometer dengan kesalahan ukur 0,5°, pita ukur Fiber Glass dengan kesalahan ukur < dari 10 cm. Instrument dikalibrasikan terlebih dahulu, Centre Line dianjurkan disurvey menggunakan Leap Frog Methode.

5.    Class Pemetaan
Adapun class - class dalam pemetaan gua yaitu :
Class   A : Semua detail lorong dibuat diluar kepala
Class   B : Detail lorong diestimasi dan dicatat dalam gua
Class   C : Detail lorong diukur pada tiap stasiun survey
Class  D : Detail lorong diukur pada tiap stasiun survey dan diantara stasiun survey.

6.    Metode Pengambilan Data
a.    Forward Methode
Dimana pembaca alat dan pencatat berada pada stasiun 1 (pertama) dan pointer (target) berada pada stasiun 2 (kedua), setelah pembacaan alat selesai pointer maju ke stasiun selanjutnya yang telah ditentukan oleh leader dan pembaca alat maju tepat pada posisi pointer tanpa merubah titik stasiun tempat berdiri pointer sebelumnya, begitu seterusnya.
Top to Bottom, Pengukuran dimulai dari Etrance gua dan berakhir pada ujung lorong gua atau akhir dari lorong gua tersebut.

III.2.3 Riset
Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya. 

Penelitian deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dalam masyarakat, pertentangan 2 keadaan / lebih, hubungan antarvariabel, perbedaan antar fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain. masalah yang diteliti dan diselidiki oleh penelitian deskriptif kualitatif mengacu pada studi kuantitatif, studi komparatif, serta dapat juga menjadi sebuah studi korelasional 1 unsur bersama unsur lainnya. Biasanya kegiatan penelitian ini meliputi pengumpulan data, menganalisis data, meginterprestasi data, dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengacu pada penganalisisan data tersebut.

Adapun tahap – tahap pada penelitian ini meliputi :

1.    Observasi
observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi - informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.

2.    Wawancara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Wawancara adalah sebuah kegiatan tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara sebagai penannya dan narasumber sebagai orang yang ditanya. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari informasi, meminta keterangan, atau menanyai pendapat tentang suatu permasalahan kepada seseorang. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa wawancara adalah kegiatan menggali informasi dari narasumber dengan cara tanya jawab.
Untuk mendapatkan informasi, ada beberapa metode yang digunakan oleh pewawancara ketika mengadakan wawancara.


                  a.  Mencatat
Metode yang pertama adalah mencatat. Para pewawancara biasanya menyiapkan buku dan pulpen untuk mencatat jawaban – jawaban dari narasumber. Ketika mencatat jawaban tersebut, pewawancara akan menulisnya dengan sangat cepat dengan cara hanya menuliskan point – pointnya saja. Karena kalau tidak, mereka tidak akan mendapat informasi yang telah diutarakan oleh narasumbernya. Setelah mendapatkan catatan hasil wawancara, barulah catatan itu dikembangkan dengan menggunakan tulisan yang baik dan informative. 
b.    Merekam / Recording
Metode selanjutnya adalah merekam. Pewawancara membutuhkan suatu alat yang berupa perekam suara. Alat ini digunakan untuk merekam jawaban – jawaban yang diberikan oleh narasumber, sehingga mereka tidak akan kehilangan informasi sedikitpun. Setelah mendapatkan rekaman, pewawancara akan menulis transkip tanya jawab tersebut dan menjadikannya sebuah tulisan berita. 


                       








BAB IV
PEMBAHASAN

IV.1 Survei
IV.1.1 Sammani
Nama tempat ini yaitu Gua Sammani Yang secara administratif terletak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulu Saraung (BABULSAR), tepatnya berada pada Dusun Pangia, Desa Semangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan. Ruli (peserta) dan Jessica (pendamping) melakukan survey pada tanggal  29 mei 2018.
Adapun Kondisi jalur menuju mulut gua, mulai tracking dari rumah terakhir melalui jalur motor warga sekitar 15 menit lalu belok kanan melalui jalur jalan kaki warga dengan mengikuti jalur pipa / selang air milik warga dengan medan menanjak yang banyak pepohonan disegala sisi jalur, lalu sampai ke titik sumber air skitar 30 menit lanjut dengan medan jalan menurun dan menanjak yang masih banyak pepohonan di segala sisi jalur salah satu dari pohon tersebut yaitu pohon kapas hingga sampai di titik percabangan antara jalur terus (ke gua latif) dan belok kiri jalur gua sammani hinga sampai batuan karst lalu turun melewatinya dengan paka bantuan wabbing dan lanjut sampai ke mulut gua dengan kondisi jalur yang tidak terlalu kentara karena pepohonan yang sangat lebat sehingga mulut gua sukar untuk ditemukan, jadi jarak dari titik start sampai ke mulut gua yaitu sekitar 1 km dengan waktu tempuh sekitar 80 menit.




IV.1.2  Latif
Nama tempat ini yaitu Gua Latif yang secara administratif terletak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulu Saraung (BABULSAR), tepatnya berada pada Dusun Pangia, Desa Semangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan, adapun Kondisi jalur menuju mulut gua mulai tracking dari rumah terakhir melalui jalur motor warga sekitar 15 menit lalu belok kanan kompas melalui jalur jalan kaki warga dengan mengikuti jalur pipa/selang air milik warga dengan medan menanjak yang banyak pepohonan disegala sisi jalur, lalu sampai ke titik sumber air skitar 30 menit lanjut dengan medan jalan menanjak yang masih banyak pepohonan di segala sisi jalur salah satu dari pohon tersebut yaitu pohon kapas hingga sampai di titik percabangan antara belok kiri (jalur gua sammani) dan jalur terus ke gua latif, lalu pilih jalur terus menanjak sedikit sampai ke mulut gua, jadi jarak dari titik start sampai ke mulut gua yaitu sekitar 2 km dengan waktu tempuh sekitar 110 menit, di sekitar mulut gua dapat dilakukan camp karena kebanyakan medan mendatar lalu suhu juga sejuk.

IV.2 Penelusuran
IV.2.1 Gua Sammani
Aktivitas penelusuran dilakukan oleh 10 orang yang terdiri dari 3 orang tim penomoran, 6 orang peserta pendidikan lanjutan serta 1 orang tim pendukung. Penelusuran dimulai sejak pukul .21.30 wita dengan durasi penelusuran ±3 jam.
Kondisi lorong Gua Sammani cenderung bervariasi, hal ini menyebabkan tim harus mengaplikasikan teknik penelusuran dengan cara menunduk, jongkok, dan memenanjak. Sammani di golongkan gua yang masih aktif, ini dapat dilihat dari kondisi gua masih terdapat tetesan air.
Hal ini tidak hanya dapat dilihat pada dinding dan langit-langit atau atap gua namun dapat juga dilihat dari lantai gua yang terdapat banyak titik-titik lubang berwarnah putih.. Tim juga menemukan adanya beberapa ornamen yang di rusak dengan sengaja ataupun tidak. Selain itu terdapat  beberapa hewan yang berada dalam gua tersebut diantaranya seperti kelelawar, jangkrik dan laba-laba.
Gua Sammani merupakan sarang bagi para kelelawar yang jumlahnya tergolong besar, keadaan itu bisa tim lihat melalui banyaknya kelelawar yang bergelantungan sepanjang jalur penelusuran selama kegiatan survey serta kotoran kelelawar cukup banyak ditemukan pada dinding dan lantai gua tersebut.
Seperti yang diketahui hewan yang hidup didalam gua umumnya mengalami perbedaan atau perubahan bentuk fisik setelah lama hidup didalam gua, hal ini tidak luput dari jangkrik dan laba-laba gua yang umumnya mengalami kebutaan dan perubahan ukuran tubuh hingga 3 kali lebih besar dari yang biasa di temui diluar lokasi gua.
Namun berbeda dengan gua lainnya tim menemukan jangkrik dan laba-laba dengan ukuran yang lebih besar lagi dari yang tim pernah lihat di gua-gua sebelumnya, mungkin ini dikarenakan tempat ini masih jarang di kunjungi oleh manusia. Dari hasil pengamatan selama penelusuran tim menemukan banyak percabangan serta sebuah aula pada gua ini.
Kondisi dalam gua terbilang variatif hal ini tim simpulkan melihat kondisi dari tiap lorong gua yang berbeda-beda, dibeberapa lorong dapat kita lihat lantai yang licin dan becek,ada juga yang lantainya terdiri dari runtuhan, juga beberapa lorong lain yang struktur tanah yang begitu rapuh dan goyang dengan beberapa batuan lepas di sekitarnya, sedangkan untuk kondisi aula di dominasi oleh runtuhan, tanah berpasir serta tanah yang jika dipijaki maka kaki secara perlahan-lahan seperti masuk kedalam tanah tersebut.

IV.2.2 Gua Latif
Penelusuran gua latif dilakukan oleh tim penomoran yang terdiri dari 3 orang yaitu rully pratama, tommy irianto dan Alvin adam utama. Serta pendidikan lanjutan diklatsar XVIII yang terdiri dari 3 orang yaitu, renaldi, ivon dan rakib. Penelusuran dilakukan mulai pukul 10.00 wita, Lamanya waktu penelusuran yaitu ± 7 jam Penelusuran dilakukan dengan cara srt oleh tim penomoran dan tim diklat. Dalam melakukan penelusuran, tim menggunakan dua jalur, jalur pertama menggunakan tali jenis Static  dengan menggunakan backup anchor 1 dan main anchor 1. Anchor yang digunakan adalah anchor alami. Anchor utama dipasang di pohon yang sebelumnya telah dijerat dengan menggunakan 2 weabbing roll dengan panjang + 4 meter yang dekat dengan jalur sebagai tambatannya sedangkan  main anchor dipasang di pohon besar yang berjarak ± 2 meter dari jalur sebagai tambatannya. Alat yang digunakan sebagai anchor utama yaitu : 2 sling webbing dan 1 carrabiner ball lock.
Sedangkan alat yang di gunakan sebagai main anchor yaitu : 2 webbing roll dan 1 carrabiner screw dengan cara di jerat di pohon tersebut. Jarak antara mulut gua hingga ke dasar gua berkisar ± 10 meter. Jalur ke dua menggunakan tali jenis static, dengan menggunakan pengaman anchor 1 dan main anchor 1. main anchor dipasang di pohon dengan cara di jerat sebagai tambatan dan memakai 1 sling webbing dan 1 carrabiner ball lock, sedangkan main anchornya di jerat di pohon besar dekat anchor utama yang berjarak ± 1,5 meter dari anchor utama dengan menggunakan  2 sling webbing dan 1 carrabiner screw sebagai main anchor dan pohon besar tersebut sebagai tambatannya. Jarak antara mulut gua hingga ke dasar gua pada jalur kedua ini, berkisar ± 8 meter.
Pada saat tim melakukan penelusuran di gua latif ini, tim membagi job desk masing-masing. Tommy dan rully membuat lintasan yang di bantu oleh Alvin dan 2 orang anggota diklat yaitu renaldi dan rakib. Alvin, renaldi dan rakib bertugas untuk memasang back up anchor.
Setelah lintasan sudah terpasang serta anchor utama dan main anchor di pastikan aman, tim menunjuk rully untuk turun duluan ke dasar gua bersama tommy. Setelah rully dan tommy telah sampai ke dasar gua, alvin bertugas untuk mengarahkan peserta diklat untuk bersiap turun ke dasar gua. Sesampainya peserta diklat ke dasar gua, rully naik dan alvin bersiap untuk turun. Dalam kegiatan ini, peserta penomoran melakukan srt sebanyak 3 kali dengan menggunakan frog system. Setelah semua peserta penomoran dan peserta diklat sudah dipastikan melakukan tugas yang diberikan, satu persatu kami naik ke mulut  gua, alvin dan rully tetap tinggal di bawah untuk melakukan clean jalur / lintasan dan memastikan tidak ada alat yang tertinggal di dasar gua.
IV.3 Pemetaan  Gua Horizontal
Pemetaan dilakukan pada hari, kamis, 20 September 2018 sampai hari jumat, 21 September 2018. Total panjang lorong gua sammani yang dipetakan oleh tim adalah 179,54 meter, tim melakukan pemetaan dengan menentukan mulut gua sebagai titik stasion pertama. Dalam melakukan pemetaan tim menggunakan forward method ( foresight ) dengan sistem top-to bottom, tim melakukan pemetaan dengan jumlah 40 stasiun.
PEMBAGIAN JOBDESK
NO.
TUGAS
PENANGGUNG JAWAB
KETERANGAN
1
Leadder
Tommy Irianto Gustama P.B

2
Stasioner 1
Nelvan Toding Datu

3
Stasioner 2
Irwandi

4
Shooter 1
Tommy Irianto

5
Shooter 2
Raymundus Lagho

6
Dokumentasi
Ivonne Indriani Naua

7
Sketsa
Muh. Rully Pratama

8
Deskriptor 1
Alvin Adam Utama

9
Deskriptor 2
Gabrielah Yeni Panggaloh

10
Lighting
Reynaldi Nurdin Ahmad


IV.4 Riset
Melakukan Riset dengan metode kualitatif deskriptif mengenai Perubahan Kondisi gua dengan cara wawancara dan observasi.
IV.4.1 Observasi
Observasi dilakukan untuk meninjau secara langsung lokasi pengambilan data.
Adapun data yang diperoleh pada saat observasi yaitu :
1.    Kondisi Titik Star : Batuan licin Terjal Dari Mulut Gua
2.    Kondisi Jalur : lembab
3.    Terdapat Guano
4.    Fauna : Kelelawar, Jangkrik Dan Laba-Laba
5.    Banyak tetesan air
6.    Kondisi mulut gua : tertutup

IV.4.2 Wawancara
Wawancara dilakukan untuk melengkapi data. Tim melakukan proses wawancara dengan individu, kelompok atau lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lokasi kegiatan. Tim dibagi sesuai kebutuhan di lapangan. Pada tahap ini, selain tanya jawab, tim juga melakukan pencatatan data diri informan dan hasil-hasil wawancara, mencatat kronologi dan mendokumentasikan proses pengambilan data.


A.   Data Narasumber 1 :
Sebelum masuk wawancara terlebih dahulu kami meminta biodata narasumber untuk memperkuat data hasil wawancara.

Adapun waktu dan tempat wawancara yaitu :
Hari / Tanggal     : Jum’at / 2 November 2018
Tempat                 : Tuna Corner (BTP)

Adapun biodata Narasumber yaitu :
1.    Nama                               : Faizal Spi
2.    Tempat Tanggal Lahir   : Maros, 20 Oktober 1994
3.    Alamat                              : Jl. Perintis Kemerdekaan 7
4.    Waktu Penelusuran      : 13 September 2014
5.    Nomor Telepon              : 085398065045
6.    Lembaga                         :Green Fish Fakultas Perikanan UNHAS

Adapun hasil wawancara kami yaitu :
1.    Kondisi Titik Star            : Didominasi runtuhan dan jalur terjal
2.    Kondisi Lorong Gua      : Ornamen Aktif, banyak runtuhan, lantai
 Kering, ditemukan guano
3.    Fauna                              : Kelelawar, Jangkrik Dan Laba-Laba
4.    Pemanfaatan Gua         :Sebagai tempat istirahat warga sehabis
berkebun dan tempat mencari makan hewan ternak milik warga
5.    Jenis Kegiatan               : Penomoran
6.    Waktu Kegiatan             : 13 September 2014



B.   Data Narasumber 2 :
Sebelum masuk wawancara terlebih dahulu kami meminta biodata narasumber untuk memperkuat data hasil wawancara.

Adapun waktu dan tempat wawancara yaitu :
Hari / Tanggal : Sabtu / 3 November 2018.
Tempat : Sekretariat MAPALA STMIK HANDAYANI.

Adapun biodata Narasumber yaitu :
1.    Nama                               : Muh. Hasan Basri
2.    Tempat Tanggal Lahir   : Mandai 21  Oktober 1995
3.    Alamat                              : Jl. Abdullah Daeng Sirua
4.    Waktu Pemetaan           : 24 April 2017
5.    Nomor Telepon              : 082292883936
6.    Lembaga                         : Mapala Stmik Handayani

Adapun hasil wawancara yang diperoleh yaitu :
1.    Kondisi Titik Star            : Didominasi runtuhan dan jalur terjal
2.    Kondisi Lorong Gua      : Ornamen Aktif, banyak runtuhan, lantai
 Kering dari enterance hingga top, ditemukan guano
3.    Fauna                              : Kelelawar, Jangkrik Dan Laba-Laba
4.    Jenis Kegiatan               : Pemetaan menggunakan Grade x
5.    Waktu Kegiatan             : 24 April 2017.





IV.4.3 Hasil Riset
Gua Sammani merupakan gua yang terletak di dusun Pangia Desa Semangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan, letak Gua Sammani berdekatan dengan Gua Latif, meskipun demikian gua ini tidak masuk dalam daftar kompleks gua latif. Gua ini masuk dalam pengelolahan Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulu’ Saraung (BABULSAR). 
Asal mula penamaan Gua Sammani  karena pada waktu dulu warga sekitar tidak tahu bahwa Gua Sammani itu ada. Gua sammani itu pertama kali ditemukan oleh orang Belanda dan kata dari sammani itu sendiri diambil dari nama orang belanda yang menemukan gua tersebut.
Jalur tracking untuk menuju mulut gua masih terbilang tertutup rimbunnya pepohonan dan semak – semak di sepanjang jalur. Dulunya warga menggunakan gua ini sebagai tempat beristirahat setelah beraktifitas di kebun dan juga sebagai tempat mengembalakan ternak.
Dibandingkan dengan beberapa gua disekitarnya , gua ini digolongkan masih terjaga keasliannya. Hal ini dikarenakan kurangnya jumlah kunjungan dari penelusur.  Dengan memasuki lorong gua dapat kita temukan pertumbuhan ornamen yang masih aktif, dengan tampakan yang bersih serta populasi fauna yang masih terjaga hingga kebagian akhir gua. selain dari itu dapat pula di jumpai Guano dengan ketebalan rata-rata +3 cm.
Dari data yang didapatkan empat tahun terakhir tidak ada perubahan yang begitu besar. Adapun perubahan yang terjadi karena pengaruh dari kondisi alam seperti kondisi iklim dan cuaca. Dapat dilihat dari data yang didapatkan saat kondisi cuaca dalam satu tahun tergolong normal (waktu dan volume curah hujan normal) kondisi lantai pada lorong gua ini akan mengalami kekeringan namun suhu tetap tergolong lembab dan proses pertambahan ornamen tetap terjadi.
Namun tidak demikian jika setahun sebelunya curah hujan masuk dalam kategori besar. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh selama berkegiatan di tahun 2018. Sebanyak 3 kali berkegiatan dengan durasi tiap kegiatan sekitar dua bulan pada tahun yang sama  ditemukan perubahan kondisi lantai lorong gua  yang berbeda dari data empat tahun terakhir. Seperti yang kita ketahui 2017 adalah tahun dimana curah hujan tergolong paling tinggi dibandingkan tahun-tahun lainnya selama 2014 - 2018. Dengan sifat batuan kars yang  berfungsi seperti spons yang menyerap air dan di dukung oleh kondisi di sekitar mulut gua yang masih terjaga kawasan hutannya  menjadikan kawasan gua sammani sebagai bank air yang kemudian di alirkan keluar dengan volume lumayan besar  pada tahun 2018 sehingga mengakibatkan kondisi lantai lorong gua menjadi becek dan licin tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.













BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Gua Latif merupakan gua alam dengan lorong yang vertical dan horizontal, Tim Pengambilan Nomor Induk Anggota melakukan penelusuran vertikal.
Saat penelusuran tim membuat 2 jalur, kedua jalur dibuat dengan tambatan anchor alam yaitu pohon sebelah timur, dan sebelah selatan. Panjang tali static yang digunakan jalur sebelah timur yaitu 18 meter dan sebelah selatan 20 meter.
            Gua Sammani adalah gua horizontal, dengan lebar mulut gua 5 meter dan tinggi 15 meter, tim melakukan pemetaan sepanjang 179,54 meter, dari entrance sampai top pada jalur lorong sebelah kanan gua.

V.2 Saran
Pada kegiatan penomoran tidaklah semuanya berjalan lancar, kami tetap mendapat kendala-kendala baik secara individu maupun kelompok, maka dari itu kami perlu dukungan yang membangun.
   Kurangnya kordinasi antara sesama tim membuat banyak masalah, seperti terbengkalainya selama persiapan, pelaksanaan, dan pembuatan laporan.
Untuk itu semoga kegiatan berikutnya, baiknya tim belajar saling mempedulikan sesama anggota dengan cara mengingatkan dan berkomunikasi dengan baik, tidak lupa mengedepankan sopan santun.
Serta tiap orang yang terlibat dalam tim harus belajar menumbuhkan kesadaran bahwa kegiatan tidak akan sukses tanpa adanya kerja sama yang baik antara semua individu dalam tim tersebut.


DAFTAR PUSTAKA




SEBERAPA PENTINGKA ETIKA MEDIA DI ERA TEKNOLOGI SAAT INI

SEBERAPA PENTINGKA ETIKA MEDIA DI ERA TEKNOLOGI SAAT INI   DI SUSUN OLEH: M.RULLY PRATAMA SAKTI.R 1610121086 MUH.RISMAN.,S.SOS.,M.I.KOM PROG...