LAPORAN HASIL
PENOMORAN DIVISI GUA
PEMETAAN GUA HORIZONTAL,
PENELUSURAN GUA VERTIKAL
DAN RISET PERUBAHAN KONDISI GUA
Diajukan
sebagai syarat untuk mendapatkan nomor induk anggota.
DI SUSUN OLEH :
Tommy Irianto Gustama P.B
Muh. Rully Pratama Sakti R
Alvin Adam Utama
KOMUNITAS
PENCINTA ALAM
UNIVERSITAS
FAJAR
MAKASSAR
2018
2018
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN HASIL
PENOMORAN DIVISI GUA
PEMETAAN GUA
HORIZONTAL,
PENELUSURAN GUA VERTIKAL
DAN RISET PERUBAHAN KONDISI
GUA
Telah
di presentasikan dan di pertanggung jawabkan dihadapan Pembimbing dan Anggota
Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar Makassar, Pada Tanggal 04 November
2018 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota Penuh.
Makassar,
9 November 2018
Mengetahui :
Pendamping Kegiatan
Jessica Reskiwira A
Mengesahkan:
Ketua Umum
Yadi Pratama
DAFTAR ISI
HALAMAN
PENGESAHAN
DAFTAR
ISI
BIODATA
PESERTA PENOMORAN
KATA
PENGANTAR
BAB
I PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
I.2
Nama Kegiatan
I.3
Tujuan Dan Target
I.4
Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
I.4.1
Waktu
I.4.2
Tempat Pelaksanaan
I.5
Pelaksanaan kegiatan
I.6
Peserta Kegiatan
I.6.1
Pendamping
I.6.2
Peseta Penomoran
I.6.3
Tim Pendukung
I.7
Bentuk Kegiatan
I.8
Anggaran Kegiatan
I.9
Logistik
BAB
II METODE PELAKSANAAN
II.1
Persiapan
II.1.1
Teknis
II.1.2
Non Teknis
II.2
Pelaksanaan
II.2.1
Penulusuran Gua
II.2.2
Pemetaan Gua
II.2.3
Riset
II.3
Pasca Pelaksanaan
II.3.1
Penyusunan Laporan
II.3.2
Persentase Akhir
BAB
III GAMBARAN UMUM
III.
1 Lokasi Kegiatan
III.1.1
Geografis
III.1.2
Pembagian Administratif
III.1.3
Kemiringan Lereng
III.1.4
Kemiringan Muka Laut
III.1.5
Demografi
III.1.6
Hidrologi
III.1.7
Klimatologi
III.1.8
Topografi
III.2
Landasan Teori
III.2.1
Penelusuran Gua
III.2.2
Pemetaan Gua
III.2.3
Riset
BAB
IV PEMBAHASAN
IV.1.
Survey
IV.1.1
Sammani
IV.1.2
Latif
IV.2
Penelusuran
IV.2.1
Sammani
IV.2.2
Latif
IV.3
Pemetaan Gua Horizontal
IV.4
Riset
IV.4.1
Observasi
IV.4.2
Wawancara
IV.4.3
Hasil Riset
BAB
V PENUTUP
V.1
Kesimpulan
V.2
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
BIODATA
PESERTA PENOMORAN
Nama : Tommy Irianto Gustama
P.B
Angkatan : DIKLATSAR XVI
TTL : Ujung Pandang, 06
Mei 1995
Agama : Khatolik
Alamat : Aspol Tallo Lama Blok.
C.8
Asal Daerah : Kota Makassar
No. HP : 081354685726
No. HP Orang Tua : 081241037403
Nama : Muh. Rully Pratama
Sakti .R
Angkatan : DIKLATSAR XVII
TTL : Rantepao, 12 Mei
1998
Agama : Islam
Alamat : Jl. Penjernihan 4,
No.47A
Asal Daerah : Kota Palopo
No. HP : 085399250852
No. HP Orang Tua : 081355524567
Nama : Alvin Adam Utama
Angkatan : DIKLATSAR XVII
TTL : Lambai, 05 Juni
1998
Agama : Islam
Alamat : BTN Paropo
Asal Daerah : Kolaka Utara
No. HP : 085242748736
No. HP Orang Tua : 085244956664
KATA PENGANTAR
Assalamu‘Alaikum Warahmatullahi
Wabararakatuh,
Salam Lestari
Puji syukur penulis panjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan Ridhonya, penulis dapat menyusun laporan
presentasi hasil Penomoran divisi gua ini dengan sungguh - sungguh.
Terima kasih banyak kami ucapkan
kepada Pendamping yang sangat setia mendampingi selama berlangsungnya kegiatan
ini dan terimakasih juga kepada para Senior - senior dan anggota Kompala Unifa
yang sudah bersedia meluangkan waktunya
untuk bersama-sama membahas laporan presentasi Penomoran Dimana Kegiatan ini
merupakan salah satu dari program kerja pengurus Periode 2017/2018.
Laporan ini masih sangat jauh dari
kata sempurna walaupun telah menerima bantuan dari berbagai pihak. Kesalahan - kesalahan
pada laporan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Saran dan kritik
yang membangun sangat diharapakan demi penyempurnaan laporan ini.
Semoga
apa yang kita rencanakan dan kita bahas pada malam ini dapat terlaksana dan di
ridhoi oleh Allah SWT.
Tetap Lestari
Wassalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Komunitas Pencinta Alam (Kompala) Universitas
Fajar Makassar sebagai salah satu organisasi yang bergerak pada bidang ilmiah,
kemasyarakatan, kemanusiaan, seni, dan olahraga kepetualangan.
Setiap anggota
Kompala Unifa harus fokus pada satu divisi dari diantara ketiganya (Gunung
Hutan, Tebing da Gua) agar menjadi anggota seumur hidup. Untuk masuk dalam
daftar keanggotaan yang berlaku seumur hidup, harus mengikuti dan melalui
tahap-tahap yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
(AD/ART) Kompala Unifa serta program kerja dari Pengurus Harian Kompala Unifa.
Misalnya, Pendidikan
dan Latihan Dasar (Diklatsar), Pendidikan lanjutan dan Pengambilan Nomor Induk
Anggota. Bertujuan, untuk melahirkan regenerasi keanggotaan. Untuk memenuhi
syarat keangotaan penuh sebagai anggota muda, serta mematuhi AD/ART maka
pemohon dalam hal ini memilih gua (cave) sebagai divisi dalam kegiatan
penomoran. untuk meningkatkan skill penambahan jam terbang, pengetahuan
mengenai ilmu penelusuran gua, serta pemetaan gua
Maka dalam tahap
pengambilan Nomor Induk Anggota divisi gua, Pemohon akan melakukan penelusuran
gua horizontal dan vertical, pemetaan gua horizontal, pemasangan jalur
vertical, serta Riset.
Adapun Riset untuk
tahap penomoran ini merupakan hal baru bagi anggota Kompala sendiri. Penambahan
item kegiatan ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan serta pemahaman
peserta kegiatan terhadap lingkungan gua, khususnya Perubahan Kondisi Gua.
I.2 Nama
Kegiatan
Kegiatan ini diberinama “Pengambilan Nomor
Induk Anggota” Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar (Kompala Unifa)
Makassar”.
I.3
Tujuan Dan Target Kegiatan
Pada kegiatan ini
kami memiliki tujuan dan target, Adapun tujuan dan target dilaksanakannya
kegiatan ini sebagai berikut :
Tujuan :
1. Mendapatkan
nomor registrasi keanggotaan Kompala Unifa
2. Menambah
wawasan dan kemampuan pada bidang gua (cave)
3. Menjelaskan
secara deskriptif Perubahan Kondisi Gua
4. Membangun
lingkungan belajar serta silaturahmi antar sesama penelusur
5. Mengaplikasikan
keterampilan dalam melakukan penelusuran gua dan keilmuan pemetaan gua serta Riset
tentang Perubahan Kondisi Gua.
Target :
1. Melakukan
pembuatan jalur penelusuran gua vertikal.
2. Mampu
melakukan pemetaan gua horizontal dengan menggunakan Gread 4, Class C.
3. Melakukan
Riset dengan metode kualitatif tentang Perubahan Kondisi Gua.
I.4 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
I.4.1 Waktu
Kegiatan
ini dilaksanakan pada hari kamis, 20 September
2018 sampai hari jumat, 21 September 2018. Adapun waktu pengambilan data
wawancara ke Organisasi Pencinta Alam GreenFish Jumat, 2 November 2018, Dan Organisasi Pencinta Alam
STIMIK Handayani pada Sabtu, 3 November 2018.
I.4.2 Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan
kegiatan di Gua Sammani dan Gua Latif yang berlokasi di Dusun Pangia, Desa Semangki,
Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Pengambilan data wawancara di Organisasi
Pencinta Alam GreenFish bertempat di Tuna Corner (BTP) Dan Organisasi
Pencinta Alam STIMIK Handayani bertempat di Sekretariat Pencinta Alam STMIK
HANDAYANI.
I.5
Pelaksana Kegiatan
Pelaksana
kegiatan Pengambilan Nomor Induk Anggota adalah pengurus periode 2018 - 2019
dan anggota Kompala Unifa.
I.6
Peserta Kegiatan
Peserta
kegiatan penomoran adalah anggota Kompala Unifa yang terdiri dari peserta
penomoran, pendamping dan tim pendukung. Adapun jumlah dan tugas peserta
kegiatan sebagai berikut :
I.6.1 Pendamping
Pendamping berjumlah 1 (satu) orang, yaitu
Jessica Reskiwira A. Pendamping berasal dari anggota Kompala Unifa dari divisi
gua yang bertanggung jawab untuk mengontrol kelancaran proses penomoran secara
keseluruhan.
I.6.2 Peserta penomoran
Peserta penomoran berjumlah 3 (tiga)
orang yaitu Tommy Iriyanto Diklatsar XVI, Muh. Rully Pratama, dan Alvin Adam
Utama Diklatsar XVII,. Peserta penomoran bertugas menyiapkan segala hal untuk
menunjang terlaksananya kegiatan serta mengumpulkan dan mengolah data hasil
dari lapangan.
I.6.3 Tim Pendukung
Tim
ini terdiri dari anggota muda, yaitu Nelvan Toding Datu, Irwandi, Rakib
Tungging, Renaldi Nurdin Ahmad, Ivonne Indriani Naua, Gabrielah Yeni Panggalo,
Raymundus Lagho dan partisipan yang bertugas membantu melancarkan kegiatan
yaitu Nur Usman, Nancy. Seperti manajer basecamp, dokumentasi, peralatan dan
perlengkapan serta medis .
I.7
Bentuk Kegiatan
1. Penelusuran Gua horizontal dan
vertikal.
2. Pemetaan Gua horizontal.
3. Riset
I.8
Anggaran Kegiatan
Anggaran
meliputi segala bentuk pemasukan dan pengeluaran baik yang terikat maupun
tidak. Adapun sumber dana kegiatan berasal dari kontribusi peserta penomoran,
Peserta Pendidikan Lanjutan dan anggota lainnya.
Adapun
anggaran yang dimaksud terlampir
I.9 Logistik
Logistik adalah hal yang terkait dengan,
konsumsi, Transportasi peralatan dan perlengkapan.
1.
Peralatan dan perlengkapan
Adapun peralatan dan perlengkapan yaitu terlampir.
BAB IIMETODE
PELAKSANAAN
|
|
II.1
Persiapan
Tahap persiapan merupakan tahapan yang dilakukan sebelum pelaksanan
kegiatan. Berikut adalah tahapan - tahapan dalam persiapan pelaksanaan.
II.1.1 Teknis
Pada
tahap persiapan teknis ini meliputi Latihan fisik, Simulasi dan Materi, adapun
penjelasannya sebagai berikut :
1. Latihan Fisik
Persiapan
fisik ini dilakukan untuk meminimalisir resiko terjadinya cedera saat kegiatan
berlangsung. Latihan ini di lakukan sebanyak 24 kali, dimana telah termasuk
didalamnya latihan fisik dan SRT, terhitung sejak 2 April – 9 Juni
2018,persiapan ini meliputi :
a)
Endurance
b)
Straeching
c)
Strenght
Untuk komposisi latihan fisik terlampir.
2. Simulasi
Tahapan ini dilakukan untuk memberikan
gambaran pada peserta kegiatan. Kegiatan ini di lakukan sebanyak dua kali :
a) Simulasi
pertama dilakukan di gua sulaiman untuk pemetaan.
Hari/tanggal : Sabtu, 7 Juni 2018
Tempat : Dusun Pattunuang, Desa
Semangki,
Kec. Simbang, Kab. Maros.
b) Simulasi
kedua dilakukan di gua Latif untuk pemasangan jalur lintasan vertikal.
Hari/
tanggal : Minggu, 8 Juni 2018
Tempat : Dusun Pangia, Desa Semangki,
Kec. Simbang, Kab. Maros.
3. Materi
Dalam pelaksanaan penomoran ada beberapa
materi yang di laksanakan untuk menambah pengetahuan peserta sebelum
pelaksanaan kegiatan di antaranya yaitu :
1. Pemasangan
lintasan
2. Pemetaan
gua horizontal
3. Metode
penelitian
Adapun
Materi Yang Dimaksud terlampir
II.1.2 Non Teknis
Persiapan non teknis adalah
persiapan yang meliputi segala bentuk yang berkaitan dengan hal - hal
administratif seperti laporan awal, perizinan, dan sebagainya.
II.2
Pelaksanaan
Pada
tahap pelaksanaan kegiatan ini, ada tiga item yang dilakukan, yaitu penelusuran
gua, pemetaan gua, dan Riset Perubahan Kondisi Gua.
II.2.1 Penelusuran Gua
Penelusuran
gua vertikal menggunakan single rope
technique (srt) dan frog system. Sedangkan dalam melakukan penelusuran gua
horizontal tim melakukan teknik penelusuran berjalan, jalan merunduk, jongkok
dan screambling.
II.2.2 Pemetaan Gua
Pemetaan
gua horizontal menggunakan metode top to bottom (melakukan pengukuran dari
entrence menuju ke dalam gua) dengan teknik forward methode (dimana stasiun 2
akan berpindah jika stasiun 1 sudah mengambil posisi stasiun 2), tim memilih
metode ini untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan di lorong gua yang
sempit. Pemetaan yan dilakukan menggunakan grade 4 class c. Grade 4 yaitu
pengukuran telah memakai alat seperti kompas, klinometer serta roll meter untuk
memperkuat data pemetaan sedangkan class C (detail lorong di ukur pada tiap
stasiun survey).
II.2.3 Riset
Melakukan
Riset dengan metode kualitatif deskriptif mengenai Perubahan Kondisi gua dengan
cara wawancara dan observasi.
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk meninjau
secara langsung lokasi pengambilan data.
2. Wawancara
Wawancara
dilakukan untuk melengkapi data. Tim melakukan proses wawancara dengan
individu, kelompok atau lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lokasi kegiatan.
Tim dibagi sesuai kebutuhan di lapangan. Pada tahap ini, selain tanya jawab,
tim juga melakukan pencatatan data diri informan dan hasil -hasil wawancara,
mencatat kronologi dan mendokumentasikan proses pengambilan data
II.3
Pasca Pelaksanaan
Pada tahap ini
meliputi dua item, diantaranya sebagai berikut :
II.3.1 Penyusunan Laporan
Pada tahap ini dilakukan pengolahan
data, baik data pemetaan maupun data penelitian.
II.3.2 Presentasi Akhir
Pada
tahap ini tim mempresentasikan Laporan Hasil Kegiatan di depan Pembimbing dan
Anggota Komunitas Pencinta Alam Universitas Fajar Makassar.
|
|
GAMBARAN UMUM
III.1
Lokasi Kegiatan
Gambaran
umum mengenai lokasi kegiatan dijelaskan sebagai berikut :
III.1.1 Geografis
Luas Wilayah Kabupaten Maros 1619,11
KM2 yang terdiri dari 14 (empat belas) Kecamatan yang membawahi 103 Desa / kelurahan, Kabupaten
Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota provinsi
Sulawesi Selatan, dalam hal ini adalah Kota Makassar dengan jarak kedua kota
tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan
Metropolitan Mamminasata. Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan
penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan
yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara yang
dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di
Kabupaten Maros dengan luas wilayah 1.619,12 km2 dan terbagi dalam 14 wilayah
Kecamatan.
Demikian pula sarana transportasi
udara terbesar di kawasan timur Indonesia berada di Kabupaten Maros sehingga
Kabupaten ini menjadi tempat masuk dan keluar dari dan ke Sulawesi Selatan.
Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan perekonomian Maros secara
keseluruhan.
III.1.2 Pembagian Administratif
Kabupaten Maros secara administrasi
wilayah berbatasan dengan :
- Sebelah
Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep
- Sebelah
Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bone
- Sebelah
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
- Sebelah
Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Kecamatan adalah pembagian
wilayah administratif di Indonesia di bawah Kabupaten atau Kota. Kecamatan
terdiri atas Desa-Desa atau kelurahan - kelurahan . Kabupaten Maros
terdiri atas 14 Kecamatan , yang dibagi lagi atas sejumlah 80 Desa dan 23
Kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Turikale.
Kecamatan tersebut :
- Turikale
- Maros
Baros
- Lau
- Bontoa
- Mandai
- Marusu
- Tanralili
- Moncongloe
- Tompobulu
- Bantimurung
- Simbang
- Cenrana
- Camba
- Mallawa
III.1.3 Kemiringan lereng
Lereng adalah derajat
kemiringan permukaan tanah yang dihitung dengan melihat perbandingan antara
jarak vertikal dengan jarak horizontal dari dua buah titik dipermukaan tanah di
kali seratus persen. Lereng tanah merupakan pembatas bagi sebagian besar usaha
menempatkan suatu kegiatan dan keterbatasan dalam pemilihan teknologi
pengolahan, selain itu lereng mempengaruhi besarnya erosi tanah sehingga
secara tidak langsung mempengaruhi kualitas tanah.
Di daerah Kabupaten Maros
memiliki keadaan lereng permukaan tanah diklasifikasikan sebagai berikut : (I)
0 – 2 %, (II) 2 – 15 %, (III) 15 – 40 %, (IV) > 40 %.
Pada Kabupaten Maros dengan
kemiringan lereng 0 – 2 % merupakan daerah yang dominan dengan luas wilayah
70.882 Km2 atau sebesar 44 % sedangkan daerah yang memiliki luas daerah
yang sempit berada pada kemiringan 2 – 5 % dengan luas wilayah 9.165 Km2 atau
sebesar 6 % dari luas total wilayah perencanaan . Untuk pengembangan wilayah
dengan tingkat kelerengan 0 – 2 % dominan berada pada sebelah Barat, dan
pengembangan wilayah dengan tingkat kelerengan > 40 % berada pada sebelah
Timur wilayah perencanaan. Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel 3 -1.
Tabel 3 -1.
Klasifikasi Kemiringan Lereng di Kabupaten Maros (dalam Ha)
Klasifikasi Kemiringan Lereng di Kabupaten Maros (dalam Ha)
KLASIFIKASI LERENG
|
||||
NO.
|
KLASIFIKASI LERENG
|
Luas (Ha)
|
PRESENTASE (%)
|
|
1
|
0 - 12 %
|
70.882
|
44
|
|
2
|
2 - 15 %
|
9.165
|
6
|
|
3
|
15 - 40 %
|
31.996
|
20
|
|
4
|
40%
|
49.869
|
30
|
|
JUMLAH
|
161.9112
|
100
|
||
III.1.4 Kemiringan muka
laut
Ketinggian suatu tempat
dari permukaan laut terutama di daerah tropis dapat menentukan banyaknya curah
hujan dan suhu. Ketinggian juga berhubungan erat dengan konfigurasi lapangan,
unsur-unsur curah hujan, suhu dan konfigurasi lapangan mempengaruhi peluang
pembudidayaan komoditas.
Ketinggian wilayah di
Kabupaten Maros berkisar antara 0 – 2000 meter dari permukaan laut. Di bagian
Barat wilayah Kabupaten Maros dengan ketinggian 0 – 25 meter dan di bagian
Timur dengan ketinggian 100 – 1000 meter lebih.
Pada Kabupaten Maros
dengan ketinggian 0 – 25 m merupakan daerah yang dominan dengan luas wilayah
63.083 ha atau sebesar 39 % sedangkan daerah yang memiliki luas daerah
yang sempit berada pada ketinggian > 1000 m dengan luas wilayah 7.193 ha
atau sebesar 4 % dari luas total wilayah perencanaan. Untuk lebih jelasnya
sebagaimana pada tabel 3-2.
Tabel 3-2.
Klasifikasi Ketinggian Muka Laut di Kabupaten Maros (dalam Ha)
Klasifikasi Ketinggian Muka Laut di Kabupaten Maros (dalam Ha)
KETINGGIAN MUKA LAUT
|
||||
NO.
|
INTERVAL KETINGGIAN
|
Luas (Ha)
|
PRESENTASE (%)
|
|
1
|
0 - 25 m
|
63.083
|
39
|
|
2
|
25 - 100 m
|
10.161
|
6
|
|
3
|
100 - 500 m
|
45.011
|
28
|
|
4
|
500 - 1000 m
|
36.466
|
23
|
|
5
|
> 1000 m
|
7.193
|
4
|
|
JUMLAH
|
161.912
|
100
|
||
Kabupaten Maros terletak
dibagian barat Sulawesi Selatan antara 5°01’04.0″ Lintang Selatan dan
119°34’35.0″ Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah
Utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah selatan, Kabupaten bone
disebelah Barat. Luas Wlayah Kabupaten Maros 1.619,12 km2 yang secara
administrasi pemerintahannya menjadi 14 Kecamatan dan 102 Desa / Kelurahan.
Berdasarkan pencatatan
kelurahan Badan stasiun Meteorologi suhu udara di Kabupaten Maros minimum
berkisar pada suhu 22,80°C (terjadi pada bulan Juli dan Agustus) dan suhu
maksimum berkisar 33,70°C (terjadi pada bulan oktober).
III.1.5 Demografi
Jumlah
penduduk menurut kabupaten dan jenis kelamin
tahun 2010
tahun 2010
NO
|
KECAMATAN
|
JUMLAH
PENDUDUK
|
|||
PRIA
|
WANITA
|
JUMLAH
|
SEX
RATIO
|
||
1
|
Mandai
|
17.545
|
17.428
|
34.973
|
99
|
2
|
Moncongloe
|
8.480
|
8.492
|
16.972
|
100
|
3
|
Maros
baru
|
11.617
|
12.223
|
23.840
|
105
|
4
|
Marusu
|
12.378
|
12.810
|
25.188
|
103
|
5
|
Turikale
|
19.737
|
21.301
|
41.038
|
108
|
6
|
Lau
|
11.865
|
12.343
|
24.208
|
104
|
7
|
Bontoa
|
12.920
|
13.630
|
26.550
|
105
|
8
|
Bantimurung
|
13.265
|
14.552
|
27.817
|
110
|
9
|
Simbang
|
10.539
|
11.462
|
22.001
|
109
|
10
|
Tanralili
|
12.961
|
12.140
|
25.101
|
94
|
11
|
Tompobulu
|
6.727
|
6.944
|
13.671
|
103
|
12
|
Camba
|
6.049
|
6.474
|
12.523
|
107
|
13
|
Ce
nrana
|
6.540
|
7.124
|
13.664
|
109
|
14
|
Mallawa
|
5.138
|
5.554
|
10.692
|
108
|
TOTAL
|
155.761
|
162.477
|
318.238
|
104
|
|
Jumlah
penduduk menurut kabupaten dan jenis kelamin
tahun 2010
tahun 2010
NO
|
KECAMATAN
|
LUAS
WILAYAH
|
JUMLAH
PENDUDUK
|
KEPADATAN
PENDUDUK
|
PRIA/WANITA
|
||||
1
|
Mandai
|
49,11
|
34.973
|
712
|
2
|
Moncongloe
|
46,87
|
16.972
|
362
|
3
|
Maros
baru
|
53,76
|
23.84
|
443
|
4
|
Marusu
|
73,83
|
25.188
|
341
|
5
|
Turikale
|
29,93
|
41.038
|
1.371
|
6
|
Lau
|
53,73
|
24.208
|
451
|
7
|
Bontoa
|
93,52
|
26.55
|
284
|
8
|
Bantimurung
|
173,70
|
27.817
|
160
|
9
|
Simbang
|
105,31
|
22.001
|
209
|
10
|
Tanralili
|
89,45
|
25.101
|
281
|
11
|
Tompobulu
|
287,66
|
13.671
|
48
|
12
|
Camba
|
145,36
|
12.523
|
86
|
13
|
Cenrana
|
180,97
|
13.664
|
76
|
14
|
Mallawa
|
235,92
|
10.692
|
45
|
TOTAL
|
1.619,12
|
318.238
|
197
|
|
Jumlah
penduduk menurut agama
tahun 2010
tahun 2010
NO
|
KECAMATAN
|
AGAMA
|
||||||
ISLAM
|
PROTESTAN
|
KATHOLIK
|
HINDU
|
BUDHA
|
KHONGHUCU
|
LAINNYA
|
||
1
|
Mandai
|
34.386
|
514
|
63
|
7
|
7
|
0
|
0
|
2
|
Moncongloe
|
16.686
|
249
|
31
|
3
|
3
|
0
|
0
|
3
|
Maros
baru
|
23.437
|
351
|
43
|
5
|
5
|
0
|
0
|
4
|
Marusu
|
24.762
|
370
|
45
|
5
|
5
|
0
|
0
|
5
|
Turikale
|
40.347
|
603
|
73
|
8
|
8
|
0
|
0
|
6
|
Lau
|
23.799
|
356
|
43
|
5
|
4
|
0
|
0
|
7
|
Bontoa
|
26.101
|
390
|
47
|
5
|
5
|
0
|
0
|
8
|
Bantimurung
|
27.347
|
409
|
50
|
6
|
6
|
0
|
0
|
9
|
Simbang
|
21.629
|
324
|
39
|
5
|
4
|
0
|
0
|
10
|
Tanralili
|
24.676
|
369
|
45
|
5
|
5
|
0
|
0
|
11
|
Tompobulu
|
13.441
|
201
|
24
|
3
|
2
|
0
|
0
|
12
|
Camba
|
12.311
|
184
|
22
|
3
|
2
|
0
|
0
|
13
|
Cenrana
|
13.433
|
201
|
24
|
3
|
3
|
0
|
0
|
14
|
Mallawa
|
10.511
|
157
|
19
|
2
|
2
|
0
|
0
|
TOTAL
|
312.866
|
4.678
|
568
|
65
|
61
|
0
|
0
|
|
III.1.6 Hidrologi
Keadaan hidrologi wilayah Kabupaten
Maros dibedakan menurut jenisnya adalah air permukaan (sungai, rawa dan
sebagainya) dan air dibawah permukaan (air tanah). Air dibawah permukaan yang
merupakan air tanah merupakan sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari
masyarakat, sumur dangkal dapat diperoleh dengan tingkat kedalaman rata-rata 10
sampai 15 meter, sedangkan sumur dalam yang diperoleh melalui pengeboran dengan
kedalaman antara 75 - 100 meter.
Sumber air permukaan di
wilayah Kabupaten Maros berupa beberapa sungai yang tersebar di beberapa
Kecamatan, yang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan kegiatan
pertanian. Sungai tersebut yakni sungai Anak Sungai Maros, Parangpakku, Marusu,
Pute, Borongkalu, Batu Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunuengasue,
Bontotanga dan Tanralili. Jenis air ini sebagian di pergunakan untuk pertanian.
III.1.7
Klimatologi
Kabupaten Maros termasuk daerah yang beriklim tropis, karena
letaknya yang berada pada daerah khatulistiwa dengan kelembaban berkisar antara
60 – 82 % . Curah hujan tahunan rata – rata 347 mm/bulan dengan rata-rata hari
hujan sekitar 16 hari. Temperatur udara rata – rata 29 derajat celsius.
Kecepatan angin rata – rata 2 – 3 knot/ jam. Daerah Kabupaten Maros pada
dasarnya beriklim tropis dengan dua musim, berdasarkan curah hujan yakni :
- Musim
hujan pada periode bulan Oktober sampai Maret
- Musim
kemarau pada bulan April sampai September
Menurut Oldement , tipe
iklim di Kabupaten Maros adalah tipe C2 yaitu bulan basah (200 mm) selama 2 – 3
bulan ber turut-turut . Beberapa Desa di Kecamatan Camba yang berbatasan dengan
Kabupaten Bone mempunyai iklim seperti daerah bagian timur Sulawesi Selatan
yakni musim hujan pada periode bulan April sampai September dan musim kemarau
dalam bulan Oktober sampai Maret.
Kabupaten Maros sebagai
pusat pelayanan transportasi udara internasional,yakni Bandar Udara Sultan
Hasanuddin. Bandar udara ini terletak di Kecamatan Mandai dan merupakan wilayah
pintu gerbang Sulawesi Selatan dan KTI yang mengindikasikan bahwa Kabupaten
Maros adalah gerbang utama pembangunan regional dan nasional.
Kabupaten Maros sebagai
pusat Pusat Pelatihan dan Pendidikan TNI-AD Kostrad Lokasi kegiatan ini
berlokasi pada dua Kecamatan, yakni Sambueja Kecamatan Bantimurung dan Kariango
Kecamatan Tanralili. Disamping itu, Kecamatan Mandai merupakan daerah pangkalan
Udara yang menyatu dengan Bandar Udara Sultan Hasanuddin.
Kabupaten Maros sebagai
pusat penelitian Pertanian, yakni Balai Penelitian Tanaman Sereal dan tanaman
pangan yang berlokasi di Kecamatan Lau. Balai penelitian ini melakukan
serangkaian penelitian untuk menghasilkan inovasi teknologi pertanian sekaligus
mendiseminasikan secara terarah guna mendukung upaya peningkatan produksi
pertanian sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan.
Kabupaten Maros sebagai
Pusat Kegiatan Keagamaan, yakni suatu kegiatan yang dilakukan oleh jamaah
Khalwatiah Sammang. Pada setiap hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW, jamaah
Khalwatiah Sammang bersatu melakukan sikir akbar yang berlokasi di Patte’ne
Kecamatan Marusu. Asal jamaah Khalwatiah Sammang tersebut tersebar diseluruh Nusantara,
bahkan ada yang berasal dari Malaysia.
Kabupaten Maros bagian
Wilayah Pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasa. Wilayah yang masuk dalam
pengembangan ini adalah Kecamatan Mandai,Moncongloe, Tompobulu,
Bantimurung,Marusu,Turikale,Tanralili, Lau,Maros Baru,Simbang, dan Bontoa. Dari
luas wilayah pengembangan Kawasan Mamminasata sebesar 2.462. Km2, wilayah
Kabupaten Maros yang menjadi bagian kawasan pengembangan tersebut adalah 1.039
Km2 atau 42,20%.
III.1.8 Topografi
Kondisi topografi Kabupaten
Maros sangat bervariasi mulai dari datar, berbukit sampai bergunung. Hampir
semua wilayah Kabupaten Maros merupakan daerah dataran dengan luas keseluruhan
sekitar sebesar 43,8 persen dari total wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan
daerah yang mempunyai kemiringan lereng diatas 40 persen atau wilayah bergunung
- gunung mempunyai luas sebesar 30,8 persen dari luas wilayah Kabupaten Maros.
III.2 Landasan Teori
Landasan teori adalah
seperangkat definisi, konsep serta proposisi yang telah disusun rapi serta
sistematis tentang variabel - variabel pada suatu Riset. Landasan teori ini
akan menjadi dasar yang kuat pada kegiatan Penelusuran Gua, Pemetaan Gua dan
Riset mengenai Perubahan Kondisi Gua.
Teori umum mengenai
Gua adalah sebuah lubang alami di
tanah yang cukup besar dan dalam. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa dia harus
cukup besar sehingga beberapa bagian di dalamnya tidak menerima cahaya
matahari; namun dalam penggunaan umumnya pengertiannya cukup luas, termasuk
perlindungan batu, gua laut.
Adapun landasan –
landasan Teori yang dimaksud dijelaskan sebagai berikut :
III.2.1 Penelusuran Gua
1. Gua Horisontal
Medan pada gua horizontal
sangat bervariasi, mulai dari lorong kering yang sangat mudah ditelusuri,
sampai dengan lorong yang sangat membutuhkan teknik yang khusus untuk dapat melewatinya
dengan cara menunduk, jongkok, merayap memenanjak dan
lain sebagainya tergantung kondisi gua.
2. Gua Vertikal
Bias Tanya untuk
penelusuran gua vertical digunakan system SRT. SRT (Single Rope technique)
yaitu teknik untuk melintasi lintasan vertical yang berupa satu lintasan tali.
Teknik ini mengutamakan keselamatan dan kenyamanan saat melintasi tali.ada juga
teknik Frog Rig System Sistem ini sering di sebut dengan sit and stand system,
karena saat meniti tali digerakan seperti orang berdiri lalu duduk, sampai saat
ini cara ini paling banyak digunakan karena kenyamanan, keamanan dan kecepatan.
III.2.2 Pemetaan Gua
1.
Definisi
Definisi Pemetaan Gua adalah
gambaran perspektif gua yang diproyeksikan keatas bidang datar yang
bersifat selektif dan dapat dipertanggung jawabkan secara visual dan
matematis dengan menggunakan skala tertentu.
2.
Manfaat
Adapun Manfaat Pemetaan Gua
Merupakan bukti otentik bagi penelusur gua, sebagai penulusuran yang
pertama kali menelusuri goa tersebut, Sebagai sumber informasi dalam
mendukung kegiatan penelitian ilmiah dan keperluan pelajaran penelusuran
gua dan lain sebagainya.
3.
Peralatan
Adapun
peralatan yang dimaksud yaitu :
a. Kompas
Untuk
mengukur azimuth lorong gua atau mengukur besar derajat perbedaan antara
lorong gua/jalan terhadap arah sumbu utara.
b. Klinometer
Digunakan untuk mengukur beda tinggi
elevasi lorong gua/ kemiringan lorong gua pada tiap stasiun pemetaan.
c. Pita Ukur
Pita ukur digunakan untuk mengukur
panjang lorong gua, biasanya terbuat dari plat baja tipis atau terbuat
dari serat kaca (Fiber Glass).
d. Alat Tulis Menulis
Berupa Kertas anti air (Kodaktris)
atau bisa menggunakan transparant paper, pensil / ballpoint maker, papan
pengalas (agar tidak menulitkan kita pada saat menulis), penghapus. Kesemuanya digunakan
untuk mencatat asil pengukuran didalam gua, sketsa gua, diskripsi
gua dan hal–hal lain yang perlu didata.
4.
Grade Pemetaan
Grade
Pemetaan gua adalah tingkat keakuratan atau ketelitian peta. Yang
sering digunakan adalah tingkat ketelitian menurut BCRA (British Cave
Research Association) yang membagi beberapa tingkatan yaitu :
a.
Grade
1
Gambar/Sketsa Kasar tanpa skala yang
benar dan dibuat diluar gua dengan dasar ingatan dari sipembuat terhadap
lorong–lorong yang digambar.
b. Grade 2
Peta
dibuat dalam gua tanpa skala yang benar dan tanpa menggunakan alat
ukur apapun, hanya bedasarkan perkiraan.
c. Grade 3
Sketsa dibuat dalam goa dengan
menggunakan bantuan Kompas dan Tali yang ditandai tiap-tiap meternya
memiliki ketelitian pengukuran satuan 2,5° posisi stasiun per 5 m,
dilakukan jika waktu sangat terbatas, penggunaan Klinometer sangat
dianjurkan.
d.
Grade
4
Pengukuran telah menggunakan kompas
serta Meteran atau Topofil. Dapat digunakan jika diperlukan, untuk
menggambarkan survey tidak sampai ke Grade 5, tetapi lebih akurat dari
Grade
e. Grade 5
Pengukuran Dengan Kompas Prismatic
dan Klinometer dengan kesalahan ukur 0,5°, pita ukur Fiber Glass dengan
kesalahan ukur < dari 10 cm. Instrument dikalibrasikan terlebih dahulu,
Centre Line dianjurkan disurvey menggunakan Leap Frog Methode.
5.
Class Pemetaan
Adapun
class - class dalam pemetaan gua yaitu :
Class A :
Semua detail lorong dibuat diluar kepala
Class B : Detail lorong diestimasi dan dicatat
dalam gua
Class C : Detail lorong diukur pada tiap stasiun
survey
Class D : Detail lorong diukur pada tiap stasiun
survey dan diantara stasiun survey.
6.
Metode
Pengambilan Data
a.
Forward Methode
Dimana pembaca alat dan pencatat berada pada stasiun 1
(pertama) dan pointer (target) berada pada stasiun 2 (kedua), setelah
pembacaan alat selesai pointer maju ke stasiun selanjutnya yang telah
ditentukan oleh leader dan pembaca alat maju tepat pada posisi pointer
tanpa merubah titik stasiun tempat berdiri pointer sebelumnya, begitu seterusnya.
Top to Bottom, Pengukuran
dimulai dari Etrance gua dan berakhir pada ujung lorong gua atau akhir
dari lorong gua tersebut.
III.2.3 Riset
Penelitian
deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian
kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fakta, keadaan,
fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan
menyuguhkan apa adanya.
Penelitian
deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data yang bersangkutan dengan
situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dalam
masyarakat, pertentangan 2 keadaan / lebih, hubungan antarvariabel, perbedaan
antar fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain. masalah yang
diteliti dan diselidiki oleh penelitian deskriptif kualitatif mengacu pada
studi kuantitatif, studi komparatif, serta dapat juga menjadi sebuah studi
korelasional 1 unsur bersama unsur lainnya. Biasanya kegiatan penelitian ini
meliputi pengumpulan data, menganalisis data, meginterprestasi data, dan
diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengacu pada penganalisisan data
tersebut.
Adapun
tahap – tahap pada penelitian ini meliputi :
1.
Observasi
observasi adalah
aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian
memahami pengetahuan dari sebuah fenomena
berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi
- informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.
2. Wawancara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Wawancara adalah
sebuah kegiatan tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara sebagai penannya
dan narasumber sebagai orang yang ditanya. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari
informasi, meminta keterangan, atau menanyai pendapat tentang suatu
permasalahan kepada seseorang. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa
wawancara adalah kegiatan menggali informasi dari narasumber dengan cara tanya
jawab.
Untuk mendapatkan informasi, ada beberapa metode yang digunakan
oleh pewawancara ketika mengadakan wawancara.
a.
Mencatat
Metode yang pertama adalah
mencatat. Para pewawancara biasanya menyiapkan buku dan pulpen untuk mencatat
jawaban – jawaban dari narasumber. Ketika mencatat jawaban tersebut,
pewawancara akan menulisnya dengan sangat cepat dengan cara hanya menuliskan
point – pointnya saja. Karena kalau tidak, mereka tidak akan mendapat informasi
yang telah diutarakan oleh narasumbernya. Setelah mendapatkan catatan hasil
wawancara, barulah catatan itu dikembangkan dengan menggunakan tulisan yang
baik dan informative.
b.
Merekam / Recording
Metode selanjutnya adalah
merekam. Pewawancara membutuhkan suatu alat yang berupa perekam suara. Alat ini
digunakan untuk merekam jawaban – jawaban yang diberikan oleh narasumber,
sehingga mereka tidak akan kehilangan informasi sedikitpun. Setelah mendapatkan
rekaman, pewawancara akan menulis transkip tanya jawab tersebut dan
menjadikannya sebuah tulisan berita.
|
|
PEMBAHASAN
IV.1
Survei
IV.1.1 Sammani
Nama tempat ini yaitu Gua Sammani Yang secara
administratif terletak di kawasan Taman Nasional
Bantimurung Bulu Saraung (BABULSAR), tepatnya berada pada Dusun Pangia, Desa
Semangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan. Ruli
(peserta) dan Jessica (pendamping) melakukan survey pada tanggal 29 mei 2018.
Adapun Kondisi jalur menuju mulut gua, mulai
tracking dari rumah terakhir melalui jalur motor warga sekitar 15 menit lalu
belok kanan melalui jalur jalan kaki warga dengan mengikuti jalur pipa / selang
air milik warga dengan medan menanjak yang banyak pepohonan disegala sisi
jalur, lalu sampai ke titik sumber air skitar 30 menit lanjut dengan medan
jalan menurun dan menanjak yang masih banyak pepohonan di segala sisi jalur salah
satu dari pohon tersebut yaitu pohon kapas hingga sampai di titik percabangan
antara jalur terus (ke gua latif) dan belok kiri jalur gua sammani hinga sampai
batuan karst lalu turun melewatinya dengan paka bantuan wabbing dan lanjut
sampai ke mulut gua dengan kondisi jalur yang tidak terlalu kentara karena
pepohonan yang sangat lebat sehingga mulut gua sukar untuk ditemukan, jadi
jarak dari titik start sampai ke mulut gua yaitu sekitar 1 km dengan waktu
tempuh sekitar 80 menit.
IV.1.2
Latif
Nama
tempat ini yaitu Gua Latif yang secara administratif terletak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulu Saraung
(BABULSAR), tepatnya berada pada Dusun Pangia, Desa Semangki, Kecamatan
Simbang, Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan, adapun Kondisi
jalur menuju mulut gua mulai tracking dari rumah terakhir melalui jalur motor
warga sekitar 15 menit lalu belok kanan kompas melalui jalur jalan kaki warga
dengan mengikuti jalur pipa/selang air milik warga dengan medan menanjak yang
banyak pepohonan disegala sisi jalur, lalu sampai ke titik sumber air skitar 30
menit lanjut dengan medan jalan menanjak yang masih banyak pepohonan di segala
sisi jalur salah satu dari pohon tersebut yaitu pohon kapas hingga sampai di
titik percabangan antara belok kiri (jalur gua sammani) dan jalur terus ke gua
latif, lalu pilih jalur terus menanjak sedikit sampai ke mulut gua, jadi jarak
dari titik start sampai ke mulut gua yaitu sekitar 2 km dengan waktu tempuh
sekitar 110 menit, di sekitar mulut gua dapat dilakukan camp karena kebanyakan
medan mendatar lalu suhu juga sejuk.
IV.2
Penelusuran
IV.2.1 Gua Sammani
Aktivitas penelusuran dilakukan oleh 10 orang
yang terdiri dari 3 orang tim penomoran, 6 orang peserta pendidikan lanjutan
serta 1 orang tim pendukung. Penelusuran dimulai sejak pukul .21.30 wita dengan
durasi penelusuran ±3 jam.
Kondisi lorong Gua Sammani cenderung
bervariasi, hal ini menyebabkan tim harus mengaplikasikan teknik penelusuran
dengan cara menunduk, jongkok, dan memenanjak. Sammani di golongkan gua yang
masih aktif, ini dapat dilihat dari kondisi gua masih terdapat tetesan air.
Hal ini tidak hanya dapat dilihat pada
dinding dan langit-langit atau atap gua namun dapat juga dilihat dari lantai
gua yang terdapat banyak titik-titik lubang berwarnah putih.. Tim juga
menemukan adanya beberapa ornamen yang di rusak dengan sengaja ataupun tidak.
Selain itu terdapat beberapa hewan yang
berada dalam gua tersebut diantaranya seperti kelelawar, jangkrik dan laba-laba.
Gua Sammani merupakan sarang bagi para
kelelawar yang jumlahnya tergolong besar, keadaan itu bisa tim lihat melalui
banyaknya kelelawar yang bergelantungan sepanjang jalur penelusuran selama
kegiatan survey serta kotoran kelelawar cukup banyak ditemukan pada dinding dan
lantai gua tersebut.
Seperti yang diketahui hewan yang hidup
didalam gua umumnya mengalami perbedaan atau perubahan bentuk fisik setelah
lama hidup didalam gua, hal ini tidak luput dari jangkrik dan laba-laba gua
yang umumnya mengalami kebutaan dan perubahan ukuran tubuh hingga 3 kali lebih
besar dari yang biasa di temui diluar lokasi gua.
Namun berbeda dengan gua lainnya tim
menemukan jangkrik dan laba-laba dengan ukuran yang lebih besar lagi dari yang
tim pernah lihat di gua-gua sebelumnya, mungkin ini dikarenakan tempat ini
masih jarang di kunjungi oleh manusia. Dari hasil pengamatan selama penelusuran
tim menemukan banyak percabangan serta sebuah aula pada gua ini.
Kondisi dalam gua terbilang variatif hal ini
tim simpulkan melihat kondisi dari tiap lorong gua yang berbeda-beda,
dibeberapa lorong dapat kita lihat lantai yang licin dan becek,ada juga yang
lantainya terdiri dari runtuhan, juga beberapa lorong lain yang struktur tanah
yang begitu rapuh dan goyang dengan beberapa batuan lepas di sekitarnya,
sedangkan untuk kondisi aula di dominasi oleh runtuhan, tanah berpasir serta
tanah yang jika dipijaki maka kaki secara perlahan-lahan seperti masuk kedalam
tanah tersebut.
IV.2.2 Gua Latif
Penelusuran gua latif dilakukan oleh tim
penomoran yang terdiri dari 3 orang yaitu rully pratama, tommy irianto dan
Alvin adam utama. Serta pendidikan lanjutan diklatsar XVIII yang terdiri dari 3
orang yaitu, renaldi, ivon dan rakib. Penelusuran dilakukan mulai pukul 10.00
wita, Lamanya waktu penelusuran yaitu ± 7 jam Penelusuran dilakukan dengan cara
srt oleh tim penomoran dan tim diklat. Dalam melakukan penelusuran, tim
menggunakan dua jalur, jalur pertama menggunakan tali jenis Static dengan menggunakan backup anchor 1 dan main
anchor 1. Anchor yang digunakan adalah anchor alami. Anchor utama dipasang di
pohon yang sebelumnya telah dijerat dengan menggunakan 2 weabbing roll dengan
panjang + 4 meter yang dekat dengan jalur sebagai tambatannya
sedangkan main anchor dipasang di pohon
besar yang berjarak ± 2 meter dari jalur sebagai tambatannya. Alat yang
digunakan sebagai anchor utama yaitu : 2 sling webbing dan 1 carrabiner ball
lock.
Sedangkan alat yang di gunakan sebagai main
anchor yaitu : 2 webbing roll dan 1 carrabiner screw dengan cara di jerat di
pohon tersebut. Jarak antara mulut gua hingga ke dasar gua berkisar ± 10 meter.
Jalur ke dua menggunakan tali jenis static, dengan menggunakan pengaman anchor
1 dan main anchor 1. main anchor dipasang di pohon dengan cara di jerat sebagai
tambatan dan memakai 1 sling webbing dan 1 carrabiner ball lock, sedangkan main
anchornya di jerat di pohon besar dekat anchor utama yang berjarak ± 1,5 meter
dari anchor utama dengan menggunakan 2
sling webbing dan 1 carrabiner screw sebagai main anchor dan pohon besar
tersebut sebagai tambatannya. Jarak antara mulut gua hingga ke dasar gua pada
jalur kedua ini, berkisar ± 8 meter.
Pada saat tim melakukan penelusuran di
gua latif ini, tim membagi job desk masing-masing. Tommy dan rully membuat
lintasan yang di bantu oleh Alvin dan 2 orang anggota diklat yaitu renaldi dan
rakib. Alvin, renaldi dan rakib bertugas untuk memasang back up anchor.
Setelah lintasan sudah terpasang serta anchor
utama dan main anchor di pastikan aman, tim menunjuk rully untuk turun duluan ke
dasar gua bersama tommy. Setelah rully dan tommy telah sampai ke dasar gua,
alvin bertugas untuk mengarahkan peserta diklat untuk bersiap turun ke dasar
gua. Sesampainya peserta diklat ke dasar gua, rully naik dan alvin bersiap
untuk turun. Dalam kegiatan ini, peserta penomoran melakukan srt sebanyak 3
kali dengan menggunakan frog system. Setelah semua peserta penomoran dan
peserta diklat sudah dipastikan melakukan tugas yang diberikan, satu persatu
kami naik ke mulut gua, alvin dan rully
tetap tinggal di bawah untuk melakukan clean jalur / lintasan dan memastikan
tidak ada alat yang tertinggal di dasar gua.
IV.3
Pemetaan Gua Horizontal
Pemetaan
dilakukan pada hari, kamis, 20 September 2018 sampai hari jumat, 21 September
2018. Total panjang lorong gua sammani yang dipetakan oleh tim adalah 179,54
meter, tim melakukan pemetaan dengan menentukan mulut gua sebagai titik stasion
pertama. Dalam melakukan pemetaan tim menggunakan forward method ( foresight ) dengan sistem top-to bottom, tim melakukan pemetaan dengan jumlah 40 stasiun.
PEMBAGIAN JOBDESK
|
||||
NO.
|
TUGAS
|
PENANGGUNG JAWAB
|
KETERANGAN
|
|
1
|
Leadder
|
Tommy Irianto Gustama P.B
|
||
2
|
Stasioner
1
|
Nelvan Toding Datu
|
||
3
|
Stasioner
2
|
Irwandi
|
||
4
|
Shooter
1
|
Tommy Irianto
|
||
5
|
Shooter
2
|
Raymundus Lagho
|
||
6
|
Dokumentasi
|
Ivonne Indriani Naua
|
||
7
|
Sketsa
|
Muh. Rully Pratama
|
||
8
|
Deskriptor
1
|
Alvin Adam Utama
|
||
9
|
Deskriptor
2
|
Gabrielah Yeni Panggaloh
|
||
10
|
Lighting
|
Reynaldi Nurdin Ahmad
|
||
IV.4
Riset
Melakukan Riset
dengan metode kualitatif deskriptif mengenai Perubahan Kondisi gua dengan cara
wawancara dan observasi.
IV.4.1 Observasi
Observasi
dilakukan untuk meninjau secara langsung lokasi pengambilan data.
Adapun
data yang diperoleh pada saat observasi yaitu :
1.
Kondisi
Titik Star : Batuan licin Terjal Dari Mulut Gua
2.
Kondisi
Jalur : lembab
3.
Terdapat
Guano
4.
Fauna
: Kelelawar, Jangkrik Dan Laba-Laba
5.
Banyak
tetesan air
6.
Kondisi
mulut gua : tertutup
IV.4.2 Wawancara
Wawancara
dilakukan untuk melengkapi data. Tim melakukan proses wawancara dengan
individu, kelompok atau lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lokasi kegiatan.
Tim dibagi sesuai kebutuhan di lapangan. Pada tahap ini, selain tanya jawab,
tim juga melakukan pencatatan data diri informan dan hasil-hasil wawancara,
mencatat kronologi dan mendokumentasikan proses pengambilan data.
A.
Data
Narasumber 1 :
Sebelum masuk wawancara terlebih
dahulu kami meminta biodata narasumber untuk memperkuat data hasil wawancara.
Adapun waktu dan tempat wawancara
yaitu :
Hari / Tanggal : Jum’at / 2 November 2018
Tempat :
Tuna Corner (BTP)
Adapun biodata Narasumber yaitu :
1.
Nama
: Faizal Spi
2.
Tempat
Tanggal Lahir : Maros, 20 Oktober 1994
3.
Alamat
: Jl. Perintis
Kemerdekaan 7
4.
Waktu
Penelusuran : 13 September 2014
5.
Nomor
Telepon : 085398065045
6.
Lembaga
:Green Fish
Fakultas Perikanan UNHAS
Adapun hasil wawancara kami yaitu :
1.
Kondisi
Titik Star : Didominasi
runtuhan dan jalur terjal
2.
Kondisi
Lorong Gua : Ornamen Aktif, banyak
runtuhan, lantai
Kering, ditemukan guano
3.
Fauna
: Kelelawar,
Jangkrik Dan Laba-Laba
4.
Pemanfaatan
Gua :Sebagai tempat istirahat
warga sehabis
berkebun dan tempat
mencari makan hewan ternak milik warga
5.
Jenis
Kegiatan : Penomoran
6.
Waktu
Kegiatan : 13 September 2014
B.
Data
Narasumber 2 :
Sebelum masuk wawancara terlebih
dahulu kami meminta biodata narasumber untuk memperkuat data hasil wawancara.
Adapun waktu dan tempat wawancara
yaitu :
Hari / Tanggal : Sabtu / 3 November
2018.
Tempat : Sekretariat MAPALA STMIK
HANDAYANI.
Adapun biodata Narasumber yaitu :
1.
Nama
: Muh. Hasan
Basri
2.
Tempat
Tanggal Lahir : Mandai 21 Oktober 1995
3.
Alamat
: Jl.
Abdullah Daeng Sirua
4.
Waktu
Pemetaan : 24 April 2017
5.
Nomor
Telepon : 082292883936
6.
Lembaga
: Mapala Stmik
Handayani
Adapun hasil wawancara yang diperoleh
yaitu :
1.
Kondisi
Titik Star : Didominasi
runtuhan dan jalur terjal
2.
Kondisi
Lorong Gua : Ornamen Aktif, banyak
runtuhan, lantai
Kering dari enterance hingga top,
ditemukan guano
3.
Fauna
: Kelelawar,
Jangkrik Dan Laba-Laba
4.
Jenis
Kegiatan : Pemetaan menggunakan Grade x
5.
Waktu
Kegiatan : 24 April 2017.
IV.4.3
Hasil Riset
Gua Sammani merupakan gua yang
terletak di dusun Pangia Desa Semangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros
Provinsi Sulawesi Selatan, letak Gua Sammani berdekatan dengan Gua Latif,
meskipun demikian gua ini tidak masuk dalam daftar kompleks gua latif. Gua ini
masuk dalam pengelolahan Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulu’ Saraung
(BABULSAR).
Asal mula penamaan Gua Sammani karena pada waktu dulu warga sekitar tidak
tahu bahwa Gua Sammani itu ada. Gua sammani itu pertama kali ditemukan oleh
orang Belanda dan kata dari sammani itu sendiri diambil dari nama orang belanda
yang menemukan gua tersebut.
Jalur tracking untuk menuju mulut gua
masih terbilang tertutup rimbunnya pepohonan dan semak – semak di sepanjang
jalur. Dulunya warga menggunakan gua ini sebagai tempat beristirahat setelah
beraktifitas di kebun dan juga sebagai tempat mengembalakan ternak.
Dibandingkan dengan beberapa gua
disekitarnya , gua ini digolongkan masih terjaga keasliannya. Hal ini
dikarenakan kurangnya jumlah kunjungan dari penelusur. Dengan memasuki lorong gua dapat kita temukan
pertumbuhan ornamen yang masih aktif, dengan tampakan yang bersih serta
populasi fauna yang masih terjaga hingga kebagian akhir gua. selain dari itu
dapat pula di jumpai Guano dengan ketebalan rata-rata +3 cm.
Dari data yang didapatkan empat tahun
terakhir tidak ada perubahan yang begitu besar. Adapun perubahan yang terjadi
karena pengaruh dari kondisi alam seperti kondisi iklim dan cuaca. Dapat
dilihat dari data yang didapatkan saat kondisi cuaca dalam satu tahun tergolong
normal (waktu dan volume curah hujan normal) kondisi lantai pada lorong gua ini
akan mengalami kekeringan namun suhu tetap tergolong lembab dan proses
pertambahan ornamen tetap terjadi.
Namun tidak demikian jika setahun
sebelunya curah hujan masuk dalam kategori besar. Hal ini dapat dilihat dari
data yang diperoleh selama berkegiatan di tahun 2018. Sebanyak 3 kali
berkegiatan dengan durasi tiap kegiatan sekitar dua bulan pada tahun yang
sama ditemukan perubahan kondisi lantai
lorong gua yang berbeda dari data empat
tahun terakhir. Seperti yang kita ketahui 2017 adalah tahun dimana curah hujan
tergolong paling tinggi dibandingkan tahun-tahun lainnya selama 2014 - 2018.
Dengan sifat batuan kars yang berfungsi
seperti spons yang menyerap air dan di dukung oleh kondisi di sekitar mulut gua
yang masih terjaga kawasan hutannya
menjadikan kawasan gua sammani sebagai bank air yang kemudian di alirkan
keluar dengan volume lumayan besar pada
tahun 2018 sehingga mengakibatkan kondisi lantai lorong gua menjadi becek dan
licin tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
|
|
PENUTUP
V.1
Kesimpulan
Gua
Latif merupakan gua alam dengan lorong yang vertical dan horizontal, Tim
Pengambilan Nomor Induk Anggota melakukan penelusuran vertikal.
Saat
penelusuran tim membuat 2 jalur, kedua jalur dibuat dengan tambatan anchor alam
yaitu pohon sebelah timur, dan sebelah selatan. Panjang tali static yang
digunakan jalur sebelah timur yaitu 18 meter dan sebelah selatan 20 meter.
Gua Sammani adalah gua horizontal, dengan lebar mulut gua
5 meter dan tinggi 15 meter, tim melakukan pemetaan sepanjang 179,54 meter,
dari entrance sampai top pada jalur lorong sebelah kanan gua.
V.2
Saran
Pada kegiatan penomoran
tidaklah semuanya berjalan lancar, kami tetap mendapat kendala-kendala baik
secara individu maupun kelompok, maka dari itu kami perlu dukungan yang
membangun.
Kurangnya kordinasi antara sesama tim membuat
banyak masalah, seperti terbengkalainya selama persiapan, pelaksanaan, dan
pembuatan laporan.
Untuk itu
semoga kegiatan berikutnya, baiknya tim belajar saling mempedulikan sesama
anggota dengan cara mengingatkan dan berkomunikasi dengan baik, tidak lupa
mengedepankan sopan santun.
Serta tiap
orang yang terlibat dalam tim harus belajar menumbuhkan kesadaran bahwa
kegiatan tidak akan sukses tanpa adanya kerja sama yang baik antara semua
individu dalam tim tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA




Tidak ada komentar:
Posting Komentar